Langsung ke konten utama

Koksidiosis pada Ayam

 


Ayam yang terlihat lesu, lebih banyak diam di sudut kandang, tidak mau makan, atau tiba-tiba mengalami kematian tentu menjadi perhatian bagi peternak. Pada kondisi tertentu, perubahan tersebut dapat menjadi tanda adanya gangguan pada saluran pencernaan. Salah satu penyakit yang perlu dipertimbangkan adalah koksidiosis.

Koksidiosis merupakan penyakit parasitik yang disebabkan oleh protozoa dari genus Eimeria yang menyerang saluran pencernaan ayam. Penyakit ini telah lama dikenal sebagai salah satu permasalahan penting dalam usaha peternakan unggas karena dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan, penurunan efisiensi penggunaan pakan, penurunan produksi, hingga kematian pada infeksi yang berat (Shane, 2005).

Secara umum, koksidiosis tersebar luas pada populasi unggas. Protozoa penyebabnya bersifat sangat spesifik terhadap inangnya dan masing-masing spesies Eimeria memiliki lokasi perkembangan yang khas di dalam saluran pencernaan. Eimeria necatrix dan Eimeria tenella termasuk spesies yang sangat patogen pada ayam karena perkembangan parasitnya dapat menyebabkan kerusakan jaringan dan perdarahan yang berat (Soulsby, 1982; De Gussem, 2007).

Besarnya masalah koksidiosis juga tergambar dari laporan Muazu et al. (2008) yang mencatat prevalensi sebesar 36,7% pada unggas dewasa dan 52,9% pada unggas muda. Angka tersebut menunjukkan bahwa koksidiosis bukan sekadar penyakit pada individu, tetapi dapat menjadi masalah pada tingkat kelompok atau flok.

Namun, untuk memahami mengapa penyakit ini dapat berkembang menjadi masalah yang serius, kita perlu melihat lebih jauh bagaimana Eimeria hidup, berkembang, merusak jaringan usus, dan menyebar di lingkungan kandang.

 

Ketika Lesu Menjadi Petunjuk Awal

Kasus infeksi koksidiosis biasanya diawali dengan adanya penampakan klinis pada ayam berupa kondisi tampak lesu dan cenderung berada di sudut kandang. Ayam juga tidak mau makan sehingga temboloknya kosong atau hanya berisi air (Nafsu makan berkurang). Selain itu gejala klinis lainnya tang tampak berupa bulu kusut, dan sayap terkulai. Pada infeksi yang menyebabkan perdarahan berat, feses dapat mengandung darah. Konsumsi air juga dapat meningkat, terutama ketika ayam mengalami kehilangan cairan.

Pada infeksi berat, kematian dapat terjadi dalam waktu relatif singkat. Sumber kasus menyebutkan bahwa pada kondisi tertentu kematian paling tinggi dapat terjadi sekitar hari ke-4 hingga ke-6 setelah infeksi. Ookista mulai ditemukan dalam feses sekitar hari ke-7 dan jumlahnya dapat mencapai puncak pada hari ke-8 sampai ke-9 (Shane, 2005).

Laporan lainnya menyebutkan gejala klinis koksidiosis berupa penurunan konsumsi pakan, penurunan bobot badan, kelesuan, bulu kusut, dan diare. Ayam yang bertahan dari infeksi berat dapat membutuhkan waktu untuk pulih dan belum tentu kembali sepenuhnya ke performa pertumbuhan atau produksi sebelumnya (De Gussem, 2007).

Hasil pemeriksaan patologi ayam (Nektropsi) biasanya menunjukkan adanya usus yang mengalami distensi serta adanya fokus berwarna putih pada beberapa bagian mukosa. Selain itu terlihat petekie dan perdarahan pada mukosa usus. Pada infeksi berat, usus dapat mengalami penebalan dan dilatasi, sementara lumen dapat berisi darah, mukus, dan cairan (De Gussem, 2007).

 

Mengenal Eimeria, Penyebab Koksidiosis

Koksidiosis pada ayam disebabkan oleh protozoa dari genus Eimeria. Terdapat sembilan spesies Eimeria pada ayam, yaitu Eimeria tenella, E. necatrix, E. maxima, E. brunetti, E. acervulina, E. mitis, E. mivati, E. praecox, dan E. hagani yang biasanya menyebabkan kasuas koksidiosis pada ayam (Soulsby, 1982).

Masing-masing spesies memiliki lokasi perkembangan dan tingkat patogenisitas yang berbeda. Hal inilah yang menyebabkan gambaran penyakit dapat berbeda antara satu infeksi dengan infeksi lainnya.

E. tenella, misalnya, terutama menyerang sekum dan dapat menyebabkan tiflitis hemoragik. Sementara itu, E. necatrix terutama berkembang pada bagian proksimal hingga pertengahan usus halus dan dapat menyebabkan perdarahan yang cukup berat. E. acervulina terutama menyerang bagian proksimal usus halus dan dapat menghasilkan lesi berupa garis atau bercak putih pada mukosa (Shane, 2005; De Gussem, 2007). Dengan demikian, lokasi lesi pada saluran pencernaan dapat menjadi salah satu petunjuk penting dalam memperkirakan spesies Eimeria yang terlibat.

 

Bentuk yang Tidak Langsung Menyebabkan Penyakit

Salah satu hal menarik dari Eimeria adalah bentuk yang berperan dalam penularannya. Parasit ini menghasilkan ookista yang dikeluarkan bersama feses ayam yang terinfeksi.

Ookista yang baru dikeluarkan belum langsung bersifat infektif. Dalam kondisi lingkungan yang sesuai, terutama terdapat kelembapan, suhu yang mendukung, dan oksigen yang cukup, ookista akan mengalami sporulasi. Berdasarkan Soulsby (1982), proses ini dapat berlangsung sekitar 24–48 jam.

Ookista yang telah bersporulasi memiliki empat sporokista dan masing-masing sporokista mengandung dua sporozoit. Ketika ookista infektif tertelan oleh ayam yang rentan, sporozoit dilepaskan dan masuk ke dalam sel epitel usus. Di dalam sel tersebut berlangsung perkembangan parasit melalui beberapa tahapan.

 

Kondisi lingkungan sangat menentukan keberlangsungan siklus ini.

Beberapa laporan menyebutkan bahwa ookista yang baru dikeluarkan menjadi infektif setelah mengalami sporulasi, yang umumnya membutuhkan sekitar satu sampai dua hari pada kondisi lingkungan yang sesuai. Ookista juga dapat mencemari pakan, air, litter, debu, tanah, peralatan, dan berbagai permukaan di lingkungan pemeliharaan (De Gussem, 2007).

Inilah salah satu alasan mengapa koksidiosis dapat berkembang dengan cepat dalam suatu kelompok ayam. Begitu lingkungan kandang telah tercemar, ayam lain yang rentan dapat terpapar kembali.

 

Siklus Hidup Eimeria

Siklus hidup Eimeria terdiri atas beberapa tahap yang secara sederhana dapat dibagi menjadi perkembangan aseksual, seksual, dan sporulasi. Siklus dimulai ketika ookista dikeluarkan bersama feses. Setelah mengalami sporulasi di lingkungan, ookista menjadi infektif dan kemudian tertelan oleh ayam.

Di dalam saluran pencernaan, sporozoit keluar dari ookista dan masuk ke dalam sel epitel usus. Sporozoit kemudian berkembang menjadi skizon. Dari skizon terbentuk merozoit yang dilepaskan dan kembali menginfeksi sel epitel lainnya.

Proses ini berlangsung berulang dan menyebabkan kerusakan sel-sel epitel usus. Setelah beberapa tahap perkembangan aseksual, parasit memasuki fase seksual yang melibatkan mikrogamet dan makrogamet. Keduanya kemudian bergabung membentuk zigot yang berkembang menjadi ookista baru.

Ookista tersebut kembali dikeluarkan bersama feses sehingga siklus dapat berulang. Pada E. necatrix, perkembangan aseksual terutama berlangsung pada usus halus, sedangkan tahap seksual berlangsung di sekum. Merozoit generasi berikutnya dapat mencapai sekum dan melanjutkan perkembangan sebelum terbentuk ookista (Soulsby, 1982).

Siklus inilah yang membuat koksidiosis tidak dapat dipandang hanya sebagai masalah ayam yang sakit. Lingkungan kandang menjadi bagian penting dalam mempertahankan siklus penyakit.

 

Bagaimana E. necatrix Merusak Usus?

Kerusakan yang ditimbulkan Eimeria terutama terjadi karena parasit berkembang di dalam sel-sel usus. Ketika jumlah parasit meningkat dan sel yang terinfeksi mengalami kerusakan, integritas mukosa usus ikut terganggu.

Pada E. necatrix, lesi terutama ditemukan pada bagian tengah usus halus. Skizon generasi kedua yang berukuran besar dapat menyebabkan kerusakan jaringan dan perdarahan. Secara makroskopis, dapat terlihat titik-titik putih yang dikelilingi area hemoragik.

Pada kondisi akut, dinding usus dapat membengkak, mengalami perdarahan, dan lumen dapat dipenuhi darah yang bercampur dengan cairan dan material lainnya. Gambaran ini menjelaskan mengapa ayam yang mengalami infeksi berat dapat menunjukkan penurunan kondisi tubuh secara cepat (Soulsby, 1982; Shane, 2005).

Pada infeksi yang lebih ringan, lesi dapat berupa bintik-bintik putih yang tersebar pada usus dan dikelilingi oleh perdarahan petekial. Ayam yang berhasil melewati infeksi berat juga dapat mengalami pemulihan yang tidak sempurna dan tetap menunjukkan kondisi tubuh yang buruk dalam beberapa waktu (Shane, 2005).

Kerusakan mukosa tersebut pada akhirnya dapat mengganggu fungsi normal saluran pencernaan. Akibatnya, ayam dapat mengalami penurunan konsumsi pakan, gangguan pertumbuhan, kehilangan bobot badan, dan pada kasus berat dapat mengalami kematian.

 

Mengapa Koksidiosis Mudah Berkembang di Kandang?

Kehadiran Eimeria saja belum tentu langsung menyebabkan penyakit klinis. Koksidia dapat ditemukan pada lingkungan pemeliharaan unggas, tetapi penyakit klinis biasanya muncul ketika ayam yang rentan menelan jumlah ookista bersporulasi yang cukup banyak.

Karena itu, kondisi kandang dan manajemen pemeliharaan menjadi faktor penting. Litter yang basah merupakan salah satu kondisi yang perlu mendapat perhatian. Kelembapan memberikan kondisi yang mendukung sporulasi ookista. Kepadatan ayam yang tinggi juga meningkatkan peluang kontaminasi lingkungan dan kontak dengan feses.

Selain itu, penyakit imunosupresif, stres, gangguan nutrisi, dan pemberian antikoksidial yang tidak optimal dapat berkontribusi terhadap munculnya koksidiosis klinis (Shane, 2005).

Ookista juga dapat berpindah secara mekanis melalui pakaian dan alas kaki pekerja, peralatan kandang, serta berbagai material yang terkontaminasi feses. Lalat dan rodensia juga dapat berperan dalam perpindahan ookista di lingkungan peternakan (De Gussem, 2007).

Dengan demikian, ketika satu kandang mengalami kasus koksidiosis, perhatian tidak cukup hanya diarahkan pada ayam yang sakit. Kondisi litter, kebersihan peralatan, sistem pemberian pakan dan air, kepadatan, serta pergerakan pekerja di dalam kandang juga perlu dievaluasi.

 

Diagnosis

Diagnosis koksidiosis dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan. Riwayat kejadian, umur ayam, gejala klinis, lokasi dan karakteristik lesi, pemeriksaan feses, pemeriksaan mikroskopis, serta nekropsi dapat digunakan secara bersama-sama.

Pemeriksaan feses dengan metode flotasi dapat membantu menemukan ookista. Namun, menemukan ookista dalam jumlah banyak tidak selalu berarti ayam sedang mengalami penyakit klinis yang berat.

Hal ini penting karena Eimeria dapat ditemukan pada flok tanpa selalu menyebabkan gejala klinis. Bahkan, jumlah ookista yang ditemukan dalam feses tidak selalu berhubungan langsung dengan tingkat keparahan lesi (Shane, 2005).

Oleh karena itu, pemeriksaan post-mortem menjadi sangat penting. Pada ayam yang baru mati, pemeriksaan beberapa ekor dapat memberikan gambaran yang lebih representatif mengenai lokasi dan tingkat kerusakan saluran pencernaan.

 

Pencegahan Dimulai dari Kandang

Pada koksidiosis, pencegahan memiliki peran yang sangat penting karena kerusakan jaringan dapat terjadi sebelum gejala klinis terlihat jelas. Salah satu langkah utama adalah menjaga litter tetap kering. Litter yang basah, terutama di sekitar tempat minum, perlu segera ditangani. Kepadatan ayam juga harus diperhatikan agar tidak meningkatkan kontaminasi lingkungan.

Tempat pakan dan minum harus dijaga kebersihannya dan ditempatkan sedemikian rupa sehingga meminimalkan kontaminasi feses. Kebersihan peralatan dan pembatasan perpindahan material dari kandang yang terinfeksi ke kandang lain juga penting untuk mengurangi penyebaran ookista.

 

Antikoksidial dan Vaksinasi

Penggunaan antikoksidial merupakan salah satu pendekatan yang banyak digunakan untuk mengendalikan koksidiosis pada unggas. Antikoksidial dapat diberikan melalui pakan atau air, tergantung produk dan tujuan penggunaannya.

Namun, penggunaan obat tidak dapat berdiri sendiri. Ketergantungan terhadap antikoksidial secara terus-menerus juga dapat memberikan tekanan seleksi yang mendorong munculnya resistensi. Karena itu, program pengendalian perlu mempertimbangkan rotasi atau kombinasi strategi sesuai kondisi lapangan dan rekomendasi penggunaan produk yang berlaku (De Gussem, 2007).

Vaksinasi juga menjadi salah satu pendekatan dalam pengendalian koksidiosis. Vaksin koksidiosis umumnya memanfaatkan ookista hidup dari spesies Eimeria tertentu untuk merangsang terbentuknya kekebalan. Kekebalan terhadap koksidiosis berkembang melalui paparan terhadap parasit dan dapat bersifat spesifik terhadap spesies yang menginfeksi.

Perkembangan strategi vaksinasi juga terus berlangsung. Laporan WOAH tahun 2026 menyebutkan bahwa pengendalian koksidiosis pada banyak sistem produksi masih sangat bergantung pada koksidiostat, sementara meningkatnya resistensi terhadap sejumlah senyawa antikoksidial menjadi salah satu tantangan yang perlu diperhatikan. Pada saat yang sama, vaksin hidup dengan cakupan beberapa spesies Eimeria terus dikembangkan dan digunakan dalam industri unggas.

Karena itu, pendekatan pengendalian koksidiosis saat ini semakin mengarah pada kombinasi antara manajemen, biosekuriti, penggunaan antikoksidial secara bijaksana, dan vaksinasi sesuai kebutuhan sistem produksi.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Muazu A, Masdooq AA, Ngbede J, Salihu AE,  Haruna G, Habu AK, Sati MN, Jamilu H. 2008. Prevalence and Identification of Species of Eimeria Causing Coccidiosis in Poultry Within Vom, Plateau State, Nigeria. International Journal of Poultry Science 7(9): 717-718
  2. Shane SM. 2005. Handbook on Poultry Desease. Singapore: American Soybean Association.
  3. Soulsby EJL. 1982. Helminths, Arthropods and Protozoa of Domesticated Animals 7th ed. Bailliere, Tindall and Cassell. London.
  4. De Gussem, M. 2007. Coccidiosis in poultry: review on diagnosis, control, prevention and interaction with overall gut health. In Proceedings of the 16th European Symposium on Poultry Nutrition (Vol. 2, pp. 253-261). Strasbourg, France: World’s Poultry Science Association (WPSA).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dokter hewan jadi seniman ? Kenapa tidak

Dokter hewan memiliki beragam prestasi dalam berbagai bidang. Mulai dari prestasi dalam mengembangkan dunia kedokteran hewan, dunia kesehatan manusia, dunia peternakan sampai prestasi dokter hewan dalam dunia seni. Dalam dunia seni Dokter Hewan banyak berperan sebagai sastrawan atau seorang novelis. Dokter-dokter hewan yang berperan dalam dunia seni tersebut merupakan nama-nama besar yang tidak asing lagi bagi kita semua , antara lain ialah drh. Taufiq Ismail, drh. Asrul Sani, drh. Marah Rusli, drh. Yonathan Rahardjo, drh. Slamet Riyadi Sabrawi, dan masih banyak dokter-dokter hewan lainya yang berprestasi dalam bidang seni lainya. Drh. Taufiq Ismail merupakan salah satu penyair yang cukup terkenal di indonesia. Karya-karya beliau banyak yang dikagumi dan mendapatkan beragam prestasi. Prestasi yang pernah beliau raih adalah Anugerah Seni dari Pemerintah (1970), Cultural Visit Award Pemerintah Australia ( 1977 ), South East Asia Write Award dari Kerajaan Thailand ( 1994 ), Pe...

Abses pada sapi

Sapi perah Abses merupakan salah satu masalah yang cukup sering terjadi pada sapi perah. Kondisi abses banyak terjadi pada peternakan sapi perah yang memiliki tingkat sanitasi kandang yang rendah. Abses merupakan kumpulan nanah (netrofil yang mati) yang berada dalam kavitas jaringan tubuh yang biasanya pada daerah kulit dan menimbulkan luka yang cukup serius karena infeksi dari bakteri pembusuk . Abses itu sendiri merupakan reaksi ketahanan dari jaringan untuk menghindari menyebar nya benda asing di tubuh. Pada abses terdapat nanah yang terlokalisasi dan dikelilingi oleh jaringan yang meradang . Gejala khas abses adalah peradangan, merah, hangat, bengkak, sakit, bila abses membesar biasanya diikuti gejala demam, selain itu bila ditekan terasa adanya terowongan (Boden 2005).

Ancaman Kepunahan Hewan Karnivora

Oleh : Alimansyah Putra S.K.H Karnivora adalah hewan yang makanannya kebanyakan adalah daging, baik yang dimakan hidup-hidup atau berasal dari daging hewan yang sudah mati. Kata karnivora berasal dari bahasa Latin carne yang berarti daging dan vorare yang berarti "memakan"). Bangsa carnivora merupakan bagian dari kelas mamalia yang memiliki gigi yang besar dan tajam. Peranan bangsa carnivora yang memiliki sifat karnivora (sebagai pemakan daging) cukup besar dalam dunia ekologi. Primack & Corlett (2005) menyatakan bahwa karnivora merupakan elemen yang penting pada komunitas satwaliar. Hilangnya jenis-jenis satwa karnivora akan menyebabkan terjadinya ledakan populasi hewan-hewan herbivora ataupun sumber pakan satwa karnivora.