Indonesia dikenal memiliki kekayaan satwa liar yang luar biasa, mulai dari harimau, badak, hingga berbagai jenis primata. Namun, ada satu mamalia karnivora yang keberadaannya tidak banyak diketahui masyarakat, yaitu ajag ( Cuon alpinus ). Satwa ini merupakan anjing liar Asia yang masih ditemukan di Indonesia, khususnya di Pulau Sumatera dan Jawa. Berbeda dengan anjing domestik yang biasa dipelihara manusia, ajag hidup di alam liar dan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Bukan Anjing Biasa Sekilas, ajag tampak seperti perpaduan antara anjing dan serigala. Tubuhnya relatif ramping, dengan warna bulu cokelat kemerahan hingga karat pada bagian atas, sedangkan bagian bawah tubuhnya cenderung lebih pucat. Ekornya panjang, lebat, dan biasanya berwarna lebih gelap pada bagian ujung. Beberapa sumber menyebutkan bahwa panjang tubuh ajag berkisar antara 760–1.000 mm, dengan panjang ekor 280–482 mm dan tinggi bahu sekitar 500 mm. Bobotnya dapat mencapai 15–21 kg pada...
Ayam yang terlihat lesu, lebih banyak diam di sudut kandang, tidak mau makan, atau tiba-tiba mengalami kematian tentu menjadi perhatian bagi peternak. Pada kondisi tertentu, perubahan tersebut dapat menjadi tanda adanya gangguan pada saluran pencernaan. Salah satu penyakit yang perlu dipertimbangkan adalah koksidiosis. Koksidiosis merupakan penyakit parasitik yang disebabkan oleh protozoa dari genus Eimeria yang menyerang saluran pencernaan ayam. Penyakit ini telah lama dikenal sebagai salah satu permasalahan penting dalam usaha peternakan unggas karena dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan, penurunan efisiensi penggunaan pakan, penurunan produksi, hingga kematian pada infeksi yang berat (Shane, 2005). Secara umum, koksidiosis tersebar luas pada populasi unggas. Protozoa penyebabnya bersifat sangat spesifik terhadap inangnya dan masing-masing spesies Eimeria memiliki lokasi perkembangan yang khas di dalam saluran pencernaan. Eimeria necatrix dan Eimeria tenella termasuk ...