Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2026

Mengapa Hewan Harus Memiliki Titer Antibodi Rabies yang Protektif Sebelum Dilalulintaskan?

  "Dok, apa saja persyaratan kalau saya ingin mengirim anjing atau kucing?" Pertanyaan seperti ini hampir setiap minggu saya terima dari masyarakat yang ingin melalulintaskan hewan kesayangannya, baik melalui jalur udara maupun laut. Ketika saya mulai menjelaskan satu per satu persyaratan karantina, hampir selalu muncul kendala yang sama. Ada pemilik yang belum pernah memvaksin rabies hewannya. Ada yang baru menghubungi petugas karantina sehari sebelum keberangkatan. Bahkan, tidak sedikit yang datang membawa buku vaksin dengan catatan bahwa hewannya baru divaksin satu atau dua hari sebelumnya, tetapi berharap hewan tersebut dapat langsung diberangkatkan. Sebagai petugas karantina, kondisi seperti ini tentu menjadi dilema. Di satu sisi kami memahami keinginan masyarakat agar hewan kesayangannya segera sampai di tempat tujuan. Namun, di sisi lain kami memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap hewan yang dilalulintaskan tidak menjadi media penyebaran peny...

Mengapa Gigitan Kucing Lebih Sering Menyebabkan Demam Dibandingkan Gigitan Anjing?

  Beberapa kali dalam hidup saya pernah mengalami gigitan kucing. Gigitan tersebut bukan sekadar luka lecet, tetapi benar-benar menembus cukup dalam hingga terasa nyeri selama beberapa hari. Yang paling saya ingat, hampir setiap kali mengalami gigitan yang cukup dalam, tubuh saya ikut bereaksi. Dalam satu hingga dua hari setelah kejadian, saya mengalami demam yang berlangsung beberapa hari. Sebaliknya, saya juga pernah mengalami gigitan anjing. Luka akibat gigitan anjing memang tampak lebih besar dan robek karena kekuatan rahangnya yang lebih kuat. Namun, menariknya, saya tidak mengalami demam seperti saat digigit kucing. Pengalaman tersebut membuat saya bertanya-tanya, mengapa luka gigitan kucing yang terlihat kecil justru lebih sering menyebabkan infeksi dan demam dibandingkan gigitan anjing? Ternyata jawabannya tidak sesederhana "karena bakteri kucing lebih ganas". Penelitian menunjukkan bahwa penyebabnya merupakan kombinasi antara bentuk luka yang dihasilkan dan jen...

Brucella melitensis pada Kambing dan Domba: Ancaman Zoonosis yang Masih Mengintai Indonesia

Brucellosis merupakan salah satu penyakit bakterial yang banyak menyerang hewan ruminansia seperti sapi, kerbau, kambing, domba, dan babi. Penyakit ini juga dapat menyerang berbagai jenis hewan lainnya dan dapat ditularkan ke manusia atau bersifat zoonosis. Infeksi bakteri brucella pada hewan betina akan dicirikan oleh adanya keguguran dan retensi plasenta, sedangkan pada hewan jantan dapat menyebabkan orchitis dan infeksi kelenjar asesoris. Brucellosis pada manusia dikenal sebagai undulant fever karena menyebabkan demam yang undulan atau naik turun. Terdapat beberapa jenis strain Brucella yang menyerang induk semang yang berbeda-beda antara lain B. abortus (sapi), B. melitensis (kambing), B. suis (babi, rusa kutub), B. canis (anjing dan sejenisnya), B. ovis (domba), B. neotomae (desert wood rat), dan B. maris (mamalia laut). Diantara beberapa jenis strain brucella tersebut, terdapat strain yang bersifat paling patogen untuk manusia yaitu B. melitensis, B. suis , dan B. abortu...