Langsung ke konten utama

Pengambilan Sampel Berbasis Risiko pada Hewan yang Dilalulintaskan Menggunakan Pendekatan Detect Disease

 


Lalu lintas hewan dan produk hewan merupakan salah satu jalur utama penyebaran penyakit hewan antardaerah maupun antarnegara. Mobilitas media pembawa yang tinggi meningkatkan risiko masuk dan tersebarnya agen penyakit apabila tidak disertai dengan sistem pengawasan yang efektif. Oleh karena itu, tindakan karantina tidak hanya berfokus pada pemeriksaan administratif, tetapi juga didukung oleh pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi kemungkinan adanya penyakit pada media pembawa yang dilalulintaskan.

Berbeda dengan penelitian epidemiologi yang bertujuan mengestimasi prevalensi penyakit dalam suatu populasi, pengambilan sampel pada lalu lintas hewan memiliki tujuan utama untuk mendeteksi keberadaan penyakit pada kelompok hewan yang memiliki risiko lebih tinggi. Dalam buku Epidemiologi Veteriner Analitik, Sumiarto dan Budiharta (2021) menjelaskan bahwa pendekatan Detect Disease digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya suatu penyakit dalam populasi dengan tingkat kepercayaan tertentu. Pendekatan ini tidak dirancang untuk menghitung besarnya prevalensi penyakit, melainkan untuk meningkatkan peluang menemukan penyakit apabila penyakit tersebut memang terdapat dalam populasi yang diperiksa.

 

Pendekatan Detect Disease

Pendekatan Detect Disease menggunakan teknik sampling nonprobabilitas (non-random sampling), yaitu metode pengambilan sampel yang didasarkan pada analisis risiko dan pertimbangan epidemiologis. Teknik yang umum digunakan adalah purposive sampling dan judgement sampling, di mana pemilihan sampel dilakukan secara sengaja berdasarkan karakteristik tertentu, seperti daerah asal, riwayat penyakit, jenis komoditas, kondisi klinis, maupun faktor risiko lainnya. Dengan pendekatan tersebut, pengambilan sampel menjadi lebih efektif karena difokuskan pada media pembawa yang memiliki peluang lebih besar membawa agen penyakit dibandingkan seluruh populasi hewan yang dilalulintaskan.

Secara umum tehnik sampling nonprobabilitas (non-random sampling), merupakan tehnik sampling yang setiap anggota populasi tidak memiliki peluang yang sama untuk menjadi sampel. Ada beberapa jenis nonprobabilitas sampling yang biasa digunakan.

Convenience Sampling

  • Berdasarkan kemudahan memperoleh sampel.
  • Praktis tetapi memiliki potensi bias yang tinggi.
Judgement Sampling

  • Sampel dipilih berdasarkan pertimbangan atau penilaian subjektif peneliti.
  • Cocok untuk deteksi penyakit.
  • Kelemahannya adalah potensi bias karena bergantung pada subjektivitas.

Purposive Sampling

  • Sampel dipilih secara sengaja berdasarkan kriteria tertentu yang relevan dengan tujuan surveilans.
  • Cocok untuk penelitian atau surveilans yang tidak bertujuan melakukan generalisasi.

 

Perhitungan sampel untuk deteksi penyakit dapat menggunakan rumus sampel deteksi penyakit yaitu:



Keterangan:

a           : tingkat kepercayaan sampling (95%)

D          : disease, D = (Prevalensi) x N (Populasi)

N          : jumlah populasi

 

Perhitungan sampel diatas digunakan untuk menentukan dan menghitung jumlah sampel minimum yang diperlukan pada kegiatan deteksi penyakit dengan tingkat kepercayaan yang sudah ditentukan. Tingkat kepercayaan pada suatu kegiatan surveilens dan monitoring umunya mencapai 95%. Jumlah sampel yang digunakan juga dipengaruhi oleh prevalensi penyakit yang akan dideteksi, semakin besar prevalensi penyakit maka jumlah sampel minimum yang dibutuhkan juga akan semakin sedikit. Perhitungan jumlah sampel ini dilakukan untuk memastikan bahwa sampel yang diambil cukup representatif untuk mendeteksi keberadaan penyakit (Sumiarto dan Budiharta, 2018).

Penerapan pendekatan Detect Disease juga sejalan dengan konsep risk-based surveillance yang direkomendasikan dalam sistem surveilans kesehatan hewan. Pendekatan ini menekankan bahwa kegiatan pengawasan sebaiknya diprioritaskan pada populasi atau kelompok yang memiliki tingkat risiko lebih tinggi sehingga penggunaan sumber daya, waktu, dan kapasitas laboratorium dapat dilakukan secara lebih efisien tanpa mengurangi kemampuan sistem dalam mendeteksi penyakit (WOAH, 2023). Dalam konteks lalu lintas hewan, kelompok berisiko dapat berupa hewan yang berasal dari daerah tertular, komoditas yang rentan terhadap penyakit tertentu, atau pengiriman yang berdasarkan hasil analisis risiko memerlukan tindakan pengawasan yang lebih intensif.

Dengan demikian, pendekatan Detect Disease merupakan metode yang tepat untuk diterapkan dalam pengambilan sampel pada hewan yang dilalulintaskan. Pendekatan ini tidak bertujuan menggambarkan prevalensi penyakit dalam populasi, tetapi memberikan keyakinan yang memadai untuk mendeteksi keberadaan penyakit pada media pembawa yang berisiko. Penerapan metode ini diharapkan mampu meningkatkan efektivitas tindakan karantina, mendukung sistem surveilans berbasis risiko, serta memperkuat upaya pencegahan masuk, keluar, dan tersebarnya penyakit hewan melalui lalu lintas media pembawa.

 

Daftar Pustaka

  • Sumiarto, B., & Budiharta, S. (2021). Epidemiologi Veteriner Analitik. Yogyakarta: UGM Press.
  • World Organisation for Animal Health (WOAH). (2023). Terrestrial Animal Health Code. Paris: WOAH.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Telur Tetas: Menjaga Kehidupan dari Dalam Cangkang

Di balik kulit cangkang yang keras, tersimpan rahasia kehidupan yang menakjubkan. Telur tetas bukan sekadar bahan pangan; ia adalah awal dari perjalanan seekor unggas baru. Bagi peternak, telur tetas adalah modal berharga untuk memastikan keberlanjutan produksi. Sementara bagi peneliti dan pecinta satwa, telur tetas merupakan contoh sempurna bagaimana keteraturan alam dapat berpadu dengan sentuhan teknologi. Telur tetas adalah telur yang telah dibuahi oleh pejantan dan memiliki potensi untuk menetas menjadi anak unggas. Di dalamnya terdapat embrio yang, jika mendapatkan suhu, kelembapan, dan perlakuan yang tepat, akan berkembang hingga memecahkan cangkang. Proses ini dapat terjadi secara alami melalui pengeraman induk, atau secara buatan dengan menggunakan mesin tetas atau inkubator. Namun, tidak semua telur dapat dijadikan telur tetas. Hanya telur yang memenuhi kriteria tertentu yang memiliki peluang menetas tinggi. Telur tetas yang baik berasal dari induk yang sehat dan bebas penyaki...

Ancaman Kepunahan Hewan Karnivora

Oleh : Alimansyah Putra S.K.H Karnivora adalah hewan yang makanannya kebanyakan adalah daging, baik yang dimakan hidup-hidup atau berasal dari daging hewan yang sudah mati. Kata karnivora berasal dari bahasa Latin carne yang berarti daging dan vorare yang berarti "memakan"). Bangsa carnivora merupakan bagian dari kelas mamalia yang memiliki gigi yang besar dan tajam. Peranan bangsa carnivora yang memiliki sifat karnivora (sebagai pemakan daging) cukup besar dalam dunia ekologi. Primack & Corlett (2005) menyatakan bahwa karnivora merupakan elemen yang penting pada komunitas satwaliar. Hilangnya jenis-jenis satwa karnivora akan menyebabkan terjadinya ledakan populasi hewan-hewan herbivora ataupun sumber pakan satwa karnivora.

Dokter hewan jadi seniman ? Kenapa tidak

Dokter hewan memiliki beragam prestasi dalam berbagai bidang. Mulai dari prestasi dalam mengembangkan dunia kedokteran hewan, dunia kesehatan manusia, dunia peternakan sampai prestasi dokter hewan dalam dunia seni. Dalam dunia seni Dokter Hewan banyak berperan sebagai sastrawan atau seorang novelis. Dokter-dokter hewan yang berperan dalam dunia seni tersebut merupakan nama-nama besar yang tidak asing lagi bagi kita semua , antara lain ialah drh. Taufiq Ismail, drh. Asrul Sani, drh. Marah Rusli, drh. Yonathan Rahardjo, drh. Slamet Riyadi Sabrawi, dan masih banyak dokter-dokter hewan lainya yang berprestasi dalam bidang seni lainya. Drh. Taufiq Ismail merupakan salah satu penyair yang cukup terkenal di indonesia. Karya-karya beliau banyak yang dikagumi dan mendapatkan beragam prestasi. Prestasi yang pernah beliau raih adalah Anugerah Seni dari Pemerintah (1970), Cultural Visit Award Pemerintah Australia ( 1977 ), South East Asia Write Award dari Kerajaan Thailand ( 1994 ), Pe...