Langsung ke konten utama

Lebah Trigona: Potensi Besar, Ancaman Kecil yang Perlu Diwaspadai

 


Lebah Trigona atau stingless bee atau lebah tanpa sengat merupakan kelompok lebah sosial yang termasuk dalam tribe Meliponini dari famili Apidae. Di Indonesia, lebah ini banyak dikenal dengan nama Trigona, kelulut, klanceng, teuweul, atau gala-gala. Berbeda dengan lebah madu genus Apis, lebah stingless tidak memiliki sengat yang berfungsi, sehingga pertahanan koloninya dilakukan melalui perilaku menggigit, mengerumuni pengganggu, serta penggunaan resin atau propolis.

Lebah stingless memiliki nilai ekonomi dan ekologis yang cukup penting. Selain menghasilkan madu dengan karakteristik khas, koloni juga menghasilkan propolis dan berperan sebagai penyerbuk berbagai tanaman. Kondisi tropis Indonesia dan tingginya keanekaragaman tumbuhan berbunga menjadikan Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan budidaya lebah stingless.

Namun, perkembangan budidaya tersebut perlu diikuti dengan perhatian terhadap kesehatan koloni, terutama karena perpindahan koloni, ratu, brood, madu, polen, dan material sarang dapat menjadi salah satu jalur perpindahan organisme pengganggu.

 

Hama dan penyakit pada lebah stingless

Lebah stingless atau Trigona tidak terlepas dari berbagai organisme pengganggu dan agen penyakit. McDougall et al. (2026) dalam kajian globalnya mengidentifikasi 48 penelitian mengenai hama arthropoda dan 28 penelitian mengenai penyakit mikroba pada lebah stingless. Hama yang banyak dilaporkan antara lain lebah perampok, lalat Phoridae, small hive beetle, dan berbagai kelompok tungau. Sementara itu, penelitian penyakit mencakup virus, Nosema dan mikroorganisme terkait, serta penyakit pada brood.

Salah satu hama yang mendapat perhatian adalah lalat Phoridae, khususnya Pseudohypocera kerteszi. Lalat ini dapat masuk ke dalam sarang dan berkembang pada material organik, terutama ketika kondisi koloni atau sarang tidak sehat. Infestasi berat dapat mengganggu struktur sarang dan perkembangan koloni.

Sementara itu, Aethina tumida atau small hive beetle perlu dipahami secara berbeda pada lebah stingless dibandingkan pada Apis mellifera. Lebah stingless memiliki mekanisme pertahanan menggunakan resin yang dapat membatasi pergerakan kumbang. Demikian pula, ditemukannya tungau atau virus pada lebah stingless tidak selalu menunjukkan bahwa organisme tersebut merupakan penyebab penyakit. Pada beberapa kasus, penelitian baru membuktikan keberadaan organisme tanpa dapat memastikan hubungan langsung dengan penyakit atau kematian koloni.

Hal ini menunjukkan pentingnya membedakan antara organisme yang benar-benar berperan sebagai penyebab penyakit dengan organisme yang hanya muncul pada koloni yang telah mengalami gangguan.

 

Organisme yang perlu diwaspadai dalam perspektif karantina

Dalam konteks Indonesia, perhatian terhadap kesehatan lebah juga tercermin dalam Lampiran II Keputusan Kepala Badan Karantina Indonesia Nomor 2664 Tahun 2025 tentang Penetapan Jenis Hama dan Penyakit Hewan Karantina, khususnya daftar jenis penyakit hewan yang perlu diwaspadai.

Beberapa organisme yang berkaitan dengan lebah dalam daftar tersebut antara lain Acarapis woodi penyebab acarapidosis atau acarine disease, Paenibacillus larvae penyebab American foulbrood, Melissococcus plutonius penyebab European foulbrood, serta Aethina tumida penyebab small hive beetle infestation.

Pencantuman organisme tersebut dalam daftar kewaspadaan karantina perlu dipahami dalam konteks pencegahan dan pengendalian risiko. Hal tersebut tidak serta-merta berarti bahwa seluruh organisme tersebut mempunyai tingkat patogenisitas atau dampak yang sama pada semua jenis lebah, termasuk lebah stingless.

Kajian McDougall et al. (2026) justru menunjukkan adanya kesenjangan pengetahuan mengenai hubungan antara berbagai organisme tersebut dengan kesehatan lebah stingless. Beberapa agen yang telah dikenal sebagai masalah penting pada lebah Apis belum tentu mempunyai dampak yang sama pada Meliponini. Namun, kemungkinan perpindahan organisme antarspesies dan penyebarannya melalui media pembawa tetap menjadi pertimbangan penting dalam pengawasan.

 

Potensi risiko melalui perpindahan lebah

Budidaya lebah stingless memungkinkan terjadinya perpindahan koloni dari satu lokasi ke lokasi lain. Media yang dipindahkan tidak hanya berupa lebah dewasa, tetapi dapat mencakup ratu, brood, madu, polen, propolis, dan material sarang.

Perpindahan tersebut secara teoritis dapat menjadi jalur penyebaran hama atau agen penyakit apabila berasal dari koloni yang terinfestasi atau terinfeksi. Risiko menjadi lebih penting ketika perpindahan dilakukan antarwilayah dengan kondisi kesehatan dan lingkungan yang berbeda. Karena itu, pemeriksaan kesehatan tidak hanya perlu memperhatikan kondisi lebah dewasa, tetapi juga brood, struktur sarang, material penyimpanan pakan, serta keberadaan organisme asing atau tanda-tanda infestasi.

 

Peran karantina hewan

Dalam kondisi tersebut, karantina hewan mempunyai peran penting sebagai salah satu lapis pencegahan terhadap masuk dan tersebarnya hama dan penyakit melalui lalu lintas lebah dan media pembawanya. Pengawasan karantina tidak semata-mata bertujuan menemukan penyakit yang telah terbukti menyebabkan gangguan pada setiap spesies lebah, tetapi juga mencegah perpindahan organisme yang berpotensi menimbulkan dampak kesehatan, ekonomi, maupun ekologis.

Pendekatan ini menjadi penting karena status suatu organisme dapat berbeda antara satu spesies inang dengan spesies lainnya. Organisme yang terbukti penting pada Apis tidak secara otomatis mempunyai dampak yang sama pada Trigona. Sebaliknya, keterbatasan bukti ilmiah pada stingless bees juga tidak berarti risiko dapat diabaikan. Oleh karena itu, penerapan prinsip kehati-hatian dan pengawasan berbasis risiko diperlukan dalam lalu lintas lebah stingless, khususnya terhadap media pembawa yang berpotensi membawa hama, agen penyakit, atau material sarang yang terkontaminasi.

 

Tantangan dan ruang penguatan pengawasan kesehatan lebah di Indonesia

Salah satu hal yang masih perlu mendapat perhatian adalah terbatasnya kajian mengenai kesehatan lebah, khususnya lebah stingless, sebagai dasar penetapan dan pengembangan daftar hama dan penyakit hewan karantina. Dibandingkan dengan ternak dan beberapa komoditas hewan lainnya, penelitian mengenai penyakit pada lebah di Indonesia masih relatif terbatas.

Kondisi tersebut dapat menjadi tantangan dalam menentukan prioritas organisme yang perlu diawasi. Di satu sisi, beberapa penyakit atau hama penting pada lebah telah masuk dalam daftar yang perlu diwaspadai. Namun, di sisi lain, masih terdapat berbagai agen penyakit yang telah dilaporkan dalam literatur internasional tetapi belum memiliki kajian yang cukup untuk menentukan relevansinya terhadap kondisi perlebahan Indonesia.

Hal ini bukan berarti daftar yang ada saat ini tidak memadai, tetapi menunjukkan adanya ruang untuk penguatan berbasis bukti ilmiah. Perkembangan budidaya lebah stingless, peningkatan perpindahan koloni, serta semakin banyaknya informasi mengenai patogen dan hama baru menunjukkan perlunya pembaruan data secara berkala.

Ke depan, kajian mengenai penyakit lebah di Indonesia dapat diarahkan tidak hanya pada Apis, tetapi juga pada Meliponini. Penelitian tersebut penting untuk mengetahui jenis organisme yang secara nyata terdapat di Indonesia, tingkat prevalensinya, hubungan dengan gejala klinis dan penurunan populasi koloni, serta kemungkinan penularannya antarspesies.

Hasil kajian tersebut selanjutnya dapat menjadi bahan dalam melakukan evaluasi risiko dan, apabila didukung oleh bukti ilmiah yang memadai, menjadi pertimbangan dalam pengembangan atau penyempurnaan daftar hama dan penyakit yang perlu diwaspadai. Dengan pendekatan tersebut, kebijakan karantina dapat terus berkembang secara dinamis mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan perubahan risiko biologis.

 

Daftar Pustaka

McDougall, R., Spooner-Hart, R., & Cook, J. (2026). A Global Review of the Pests and Diseases of Stingless Bees. Insects, 17(6), 619.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Telur Tetas: Menjaga Kehidupan dari Dalam Cangkang

Di balik kulit cangkang yang keras, tersimpan rahasia kehidupan yang menakjubkan. Telur tetas bukan sekadar bahan pangan; ia adalah awal dari perjalanan seekor unggas baru. Bagi peternak, telur tetas adalah modal berharga untuk memastikan keberlanjutan produksi. Sementara bagi peneliti dan pecinta satwa, telur tetas merupakan contoh sempurna bagaimana keteraturan alam dapat berpadu dengan sentuhan teknologi. Telur tetas adalah telur yang telah dibuahi oleh pejantan dan memiliki potensi untuk menetas menjadi anak unggas. Di dalamnya terdapat embrio yang, jika mendapatkan suhu, kelembapan, dan perlakuan yang tepat, akan berkembang hingga memecahkan cangkang. Proses ini dapat terjadi secara alami melalui pengeraman induk, atau secara buatan dengan menggunakan mesin tetas atau inkubator. Namun, tidak semua telur dapat dijadikan telur tetas. Hanya telur yang memenuhi kriteria tertentu yang memiliki peluang menetas tinggi. Telur tetas yang baik berasal dari induk yang sehat dan bebas penyaki...

Dokter hewan jadi seniman ? Kenapa tidak

Dokter hewan memiliki beragam prestasi dalam berbagai bidang. Mulai dari prestasi dalam mengembangkan dunia kedokteran hewan, dunia kesehatan manusia, dunia peternakan sampai prestasi dokter hewan dalam dunia seni. Dalam dunia seni Dokter Hewan banyak berperan sebagai sastrawan atau seorang novelis. Dokter-dokter hewan yang berperan dalam dunia seni tersebut merupakan nama-nama besar yang tidak asing lagi bagi kita semua , antara lain ialah drh. Taufiq Ismail, drh. Asrul Sani, drh. Marah Rusli, drh. Yonathan Rahardjo, drh. Slamet Riyadi Sabrawi, dan masih banyak dokter-dokter hewan lainya yang berprestasi dalam bidang seni lainya. Drh. Taufiq Ismail merupakan salah satu penyair yang cukup terkenal di indonesia. Karya-karya beliau banyak yang dikagumi dan mendapatkan beragam prestasi. Prestasi yang pernah beliau raih adalah Anugerah Seni dari Pemerintah (1970), Cultural Visit Award Pemerintah Australia ( 1977 ), South East Asia Write Award dari Kerajaan Thailand ( 1994 ), Pe...

Ancaman Kepunahan Hewan Karnivora

Oleh : Alimansyah Putra S.K.H Karnivora adalah hewan yang makanannya kebanyakan adalah daging, baik yang dimakan hidup-hidup atau berasal dari daging hewan yang sudah mati. Kata karnivora berasal dari bahasa Latin carne yang berarti daging dan vorare yang berarti "memakan"). Bangsa carnivora merupakan bagian dari kelas mamalia yang memiliki gigi yang besar dan tajam. Peranan bangsa carnivora yang memiliki sifat karnivora (sebagai pemakan daging) cukup besar dalam dunia ekologi. Primack & Corlett (2005) menyatakan bahwa karnivora merupakan elemen yang penting pada komunitas satwaliar. Hilangnya jenis-jenis satwa karnivora akan menyebabkan terjadinya ledakan populasi hewan-hewan herbivora ataupun sumber pakan satwa karnivora.