Beberapa kali dalam hidup saya pernah
mengalami gigitan kucing. Gigitan tersebut bukan sekadar luka lecet, tetapi
benar-benar menembus cukup dalam hingga terasa nyeri selama beberapa hari. Yang
paling saya ingat, hampir setiap kali mengalami gigitan yang cukup dalam, tubuh
saya ikut bereaksi. Dalam satu hingga dua hari setelah kejadian, saya mengalami
demam yang berlangsung beberapa hari.
Sebaliknya, saya juga pernah mengalami gigitan
anjing. Luka akibat gigitan anjing memang tampak lebih besar dan robek karena
kekuatan rahangnya yang lebih kuat. Namun, menariknya, saya tidak mengalami
demam seperti saat digigit kucing.
Pengalaman tersebut membuat saya
bertanya-tanya, mengapa luka gigitan kucing yang terlihat kecil justru lebih
sering menyebabkan infeksi dan demam dibandingkan gigitan anjing?
Ternyata jawabannya tidak sesederhana
"karena bakteri kucing lebih ganas". Penelitian menunjukkan bahwa
penyebabnya merupakan kombinasi antara bentuk luka yang dihasilkan dan jenis
bakteri yang terdapat di dalam rongga mulut hewan tersebut.
Luka Gigitan Kucing: Kecil di Luar, Dalam di
Dalam
Perbedaan
paling mendasar antara gigitan kucing dan anjing adalah bentuk luka yang
dihasilkan. Kucing memiliki gigi taring yang panjang, ramping, dan sangat
tajam. Saat menggigit, gigi tersebut bekerja seperti jarum yang menusuk jauh ke
dalam jaringan. Akibatnya, luka pada permukaan kulit sering kali hanya berupa
lubang kecil, tetapi bakteri telah masuk jauh ke jaringan bawah kulit, tendon,
bahkan sendi.
Lubang yang
sempit ini kemudian cepat menutup, sehingga bakteri terjebak di dalam jaringan.
Kondisi tersebut menciptakan lingkungan yang ideal bagi bakteri untuk
berkembang biak. Sebaliknya, gigitan anjing lebih sering menghasilkan luka
robek (laceration). Walaupun kerusakan jaringan biasanya lebih luas, luka yang
terbuka memungkinkan darah mengalir keluar dan mempermudah proses pembersihan
luka, sehingga bakteri tidak selalu terperangkap seperti pada luka tusuk akibat
gigitan kucing.
Inilah
salah satu alasan mengapa berbagai penelitian melaporkan bahwa sekitar 20–80%
gigitan kucing mengalami infeksi, sedangkan pada gigitan anjing angkanya
berkisar 3–18%.
Flora Mulut Kucing dan Anjing: Sama-sama Mengandung
Banyak Bakteri
Banyak
orang mengira mulut kucing jauh lebih "kotor" dibandingkan mulut
anjing. Faktanya, keduanya sama-sama dihuni oleh berbagai bakteri yang
berpotensi menyebabkan penyakit pada manusia.
Penelitian
Razali dkk., (2020) terhadap 100 anjing liar dan 100 kucing liar di Aljazair
menunjukkan bahwa 92,5% hewan membawa sedikitnya satu bakteri zoonotik di dalam
rongga mulutnya. Bahkan lebih dari separuh hewan membawa dua atau lebih spesies
bakteri sekaligus.
Sebanyak
374 isolat bakteri berhasil diidentifikasi, meliputi berbagai bakteri Gram
negatif maupun Gram positif, seperti:
- Pasteurella
- Proteus mirabilis
- Escherichia coli
- Staphylococcus
- Streptococcus
- Moraxella
- Acinetobacter
- Neisseria
- Klebsiella
- Pseudomonas
- dan beberapa bakteri anaerob lainnya.
Artinya,
ketika terjadi gigitan, luka tidak hanya terpapar satu jenis bakteri, melainkan
campuran berbagai mikroorganisme (polymicrobial infection). Kondisi ini juga
ditegaskan dalam artikel tinjauan oleh Oehler dan kolega (2009), yang
menyebutkan bahwa infeksi akibat gigitan hewan umumnya merupakan kombinasi
bakteri aerob dan anaerob yang berasal dari kulit manusia maupun rongga mulut
hewan.
Pasteurella multocida: Bakteri yang Paling
Sering Menyebabkan Infeksi
Di antara
berbagai bakteri tersebut, Pasteurella multocida merupakan bakteri yang
paling sering dikaitkan dengan infeksi setelah gigitan hewan. Bakteri ini mampu
berkembang sangat cepat di dalam jaringan sehingga gejala infeksi sering muncul
hanya dalam waktu 12–24 jam setelah gigitan.
Infeksi
akibat Pasteurella multocida biasanya ditandai dengan:
- nyeri hebat pada luka,
- kemerahan,
- pembengkakan,
- keluarnya cairan,
- demam,
- pembengkakan kelenjar getah bening.
Pada kasus
yang berat, bakteri dapat menyebar melalui aliran darah dan menyebabkan
selulitis, tenosinovitis, osteomielitis, artritis septik, bahkan sepsis.
Menariknya,
penelitian Razali dkk. menemukan bahwa prevalensi P. multocida pada
anjing dan kucing ternyata hampir sama (sekitar 10–11%). Akan tetapi, pada
kelompok bakteri Pasteurella, spesies yang paling dominan pada kucing
adalah P. multocida, sedangkan pada anjing lebih banyak ditemukan Pasteurella
pneumotropica.
Hal ini
menunjukkan bahwa risiko infeksi gigitan kucing bukan hanya ditentukan oleh
keberadaan P. multocida, tetapi juga oleh mekanisme gigitan yang
memungkinkan bakteri masuk jauh ke dalam jaringan.
Mengapa Mengalami Demam Setelah Digigit
Kucing?
Demam
sebenarnya merupakan respons alami tubuh terhadap infeksi. Ketika bakteri
berhasil berkembang di dalam jaringan, sistem imun akan melepaskan berbagai
mediator inflamasi seperti interleukin-1 (IL-1), interleukin-6 (IL-6), dan
tumor necrosis factor-alpha (TNF-α). Ketiga zat ini bekerja pada pusat pengatur
suhu tubuh di otak sehingga suhu tubuh meningkat sebagai bagian dari mekanisme
pertahanan. Pada gigitan kucing, terdapat beberapa faktor yang bekerja secara
bersamaan:
- luka berbentuk tusukan yang dalam,
- lubang luka cepat menutup,
- bakteri terperangkap di dalam jaringan,
- infeksi sering bersifat polimikroba,
- adanya bakteri penting seperti Pasteurella multocida, Streptococcus, Fusobacterium, dan pada beberapa kasus Capnocytophaga.
Kombinasi
inilah yang menyebabkan gigitan kucing lebih sering berkembang menjadi infeksi
yang memicu demam dibandingkan banyak kasus gigitan anjing.
Jangan Menganggap Remeh Gigitan Hewan
Baik
gigitan kucing maupun anjing tetap harus dianggap sebagai luka yang berpotensi
serius.
Selain
menyebabkan infeksi lokal, beberapa bakteri seperti Pasteurella multocida
dan Capnocytophaga canimorsus dapat masuk ke aliran darah dan
menyebabkan sepsis, syok septik, meningitis, endokarditis, hingga komplikasi
berat lainnya, terutama pada orang dengan diabetes, penyakit hati, gangguan
sistem imun, atau pasien tanpa limpa.
Karena itu, setiap luka gigitan sebaiknya segera dicuci menggunakan air mengalir dan sabun selama sedikitnya 10–15 menit, dibersihkan dengan antiseptik, kemudian diperiksakan ke fasilitas kesehatan. Pada banyak kasus, terutama gigitan kucing yang menembus dalam, dokter akan mempertimbangkan pemberian antibiotik profilaksis, umumnya amoksisilin-klavulanat, serta mengevaluasi kebutuhan vaksin tetanus dan profilaksis rabies sesuai kondisi hewan dan daerah kejadian.
Pengalaman
saya mengalami demam setelah beberapa kali digigit kucing ternyata memiliki
dasar ilmiah yang kuat. Bukan karena mulut kucing selalu lebih
"kotor" daripada mulut anjing, melainkan karena bentuk gigitan kucing
memungkinkan bakteri masuk jauh ke dalam jaringan dan terperangkap di dalam
luka yang cepat menutup.
Ditambah
lagi, rongga mulut kucing mengandung berbagai bakteri yang berpotensi
menyebabkan infeksi, terutama Pasteurella multocida, serta bakteri lain
seperti Streptococcus, Fusobacterium, dan Capnocytophaga.
Kombinasi mekanisme luka dan flora bakteri inilah yang membuat gigitan kucing
lebih sering berkembang menjadi infeksi disertai demam dibandingkan gigitan
anjing.
Oleh karena
itu, jangan pernah menganggap remeh luka gigitan kucing meskipun tampak kecil.
Justru luka kecil yang tampak sederhana sering kali menyimpan risiko infeksi
yang lebih besar daripada luka robek akibat gigitan anjing.
Daftar Pustaka
- Oehler, R. L., Velez, A. P.,
Mizrachi, M., Lamarche, J., & Gompf, S. (2009). Bite-related and septic syndromes caused by cats and dogs.
The Lancet Infectious Diseases, 9(7), 439–447. https://doi.org/10.1016/S1473-3099(09)70110-0.
- Razali, K., Kaidi, R., Abdelli, A., Menoueri, M. N., & Ait-Oudhia, K. (2020). Oral flora of stray dogs and cats in Algeria: Pasteurella and other zoonotic bacteria. Veterinary World, 13(12), 2806–2814. https://doi.org/10.14202/vetworld.2020.2806-2814

Komentar
Posting Komentar