Langsung ke konten utama

Brucella melitensis pada Kambing dan Domba: Ancaman Zoonosis yang Masih Mengintai Indonesia


Brucellosis merupakan salah satu penyakit bakterial yang banyak menyerang hewan ruminansia seperti sapi, kerbau, kambing, domba, dan babi. Penyakit ini juga dapat menyerang berbagai jenis hewan lainnya dan dapat ditularkan ke manusia atau bersifat zoonosis. Infeksi bakteri brucella pada hewan betina akan dicirikan oleh adanya keguguran dan retensi plasenta, sedangkan pada hewan jantan dapat menyebabkan orchitis dan infeksi kelenjar asesoris. Brucellosis pada manusia dikenal sebagai undulant fever karena menyebabkan demam yang undulan atau naik turun. Terdapat beberapa jenis strain Brucella yang menyerang induk semang yang berbeda-beda antara lain B. abortus (sapi), B. melitensis (kambing), B. suis (babi, rusa kutub), B. canis (anjing dan sejenisnya), B. ovis (domba), B. neotomae (desert wood rat), dan B. maris (mamalia laut). Diantara beberapa jenis strain brucella tersebut, terdapat strain yang bersifat paling patogen untuk manusia yaitu B. melitensis, B. suis, dan B. abortus. Di antara seluruh spesies tersebut, Brucella melitensis merupakan spesies yang paling patogen bagi manusia dan menjadi penyebab utama bruselosis pada kambing dan domba.

Infeksi Brucella melitensis pada kambing dan domba terutama menyerang organ reproduksi. Penyakit ini menyebabkan abortus pada akhir kebuntingan, retensi plasenta, kelahiran anak yang lemah, penurunan fertilitas, hingga infertilitas permanen pada sebagian ternak. Pada pejantan dapat terjadi orchitis dan epididimitis yang mengakibatkan menurunnya kemampuan reproduksi. Dampak tersebut menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup besar berupa menurunnya produktivitas, meningkatnya angka kematian anak ternak, berkurangnya populasi bibit unggul, serta terganggunya perdagangan ternak akibat adanya pembatasan lalu lintas hewan dari daerah yang terinfeksi. Selain kerugian ekonomi, penyakit ini juga memiliki dampak kesehatan masyarakat karena bersifat zoonosis dan dapat menular kepada manusia melalui kontak langsung dengan jaringan reproduksi, fetus yang mengalami abortus, plasenta, maupun melalui konsumsi susu dan produk olahan susu yang tidak dipasteurisasi.

Keberhasilan Brucella melitensis sebagai patogen tidak disebabkan oleh keberadaan toksin ataupun faktor virulensi klasik sebagaimana dijumpai pada bakteri patogen lainnya. Moreno dan Moriyón menjelaskan bahwa bakteri ini tidak memiliki kapsul, flagela, fimbria, maupun eksotoksin, tetapi mempunyai kemampuan luar biasa untuk bertahan hidup di dalam sel fagosit, terutama makrofag. Setelah memasuki tubuh inang, bakteri mampu menghindari penghancuran oleh lisosom dan kemudian bereplikasi di dalam kompartemen intraseluler yang menyerupai retikulum endoplasma. Kemampuan hidup secara intraseluler tersebut menjadikan infeksi Brucella melitensis bersifat persisten, kronis, dan sulit dieliminasi oleh sistem imun tubuh maupun terapi antibiotik apabila tidak ditangani secara tepat.

Kemampuan adaptasi tersebut juga menjelaskan mengapa Brucella melitensis masih menjadi salah satu penyebab utama bruselosis pada manusia di berbagai belahan dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa spesies ini merupakan penyebab tersering bruselosis pada manusia secara global, terutama di negara-negara yang memiliki populasi kambing dan domba cukup tinggi. Penyakit pada manusia umumnya ditandai dengan demam yang hilang timbul (undulant fever), nyeri otot, nyeri sendi, kelelahan, serta dapat berkembang menjadi infeksi kronis yang menyerang berbagai organ apabila tidak mendapatkan pengobatan yang memadai.

Di Indonesia, informasi mengenai Brucella melitensis pada kambing dan domba masih relatif terbatas dibandingkan dengan Brucella abortus pada sapi. Salah satu surveilans yang dilakukan oleh Balai Besar Veteriner Maros pada tahun 2017 memberikan gambaran bahwa bakteri ini masih bersirkulasi di wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Dalam penelitian tersebut dilakukan pemeriksaan terhadap 752 sampel serum kambing menggunakan metode Rose Bengal Test (RBT) dan Complement Fixation Test (CFT). Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa 34 sampel (4,52%) dinyatakan positif terhadap Brucella melitensis. Di Sulawesi Selatan prevalensi mencapai 4,45%, sedangkan di Sulawesi Barat sekitar 4,2–4,7%. Kasus positif ditemukan di Kabupaten Jeneponto, Kota Makassar, Kota Parepare, dan Kabupaten Polewali Mandar, dengan proporsi tertinggi berada di Kota Makassar dan Kabupaten Jeneponto.

Temuan tersebut menjadi informasi yang sangat penting karena Sulawesi Selatan merupakan salah satu sentra peternakan sekaligus jalur distribusi kambing dan domba di kawasan Indonesia Timur. Mobilitas ternak yang tinggi antarwilayah meningkatkan risiko penyebaran penyakit apabila tidak diikuti dengan sistem pengawasan kesehatan hewan yang memadai. Tidak semua ternak yang terinfeksi menunjukkan gejala klinis secara nyata, sehingga seekor kambing yang tampak sehat tetap berpotensi menjadi sumber penularan apabila membawa bakteri Brucella melitensis. Kondisi inilah yang menyebabkan surveilans aktif dan pemeriksaan laboratorium menjadi bagian yang sangat penting dalam sistem pengendalian penyakit.

Penelitian Balai Besar Veteriner Maros juga menunjukkan bahwa penggunaan Rose Bengal Test (RBT) dan Complement Fixation Test (CFT) secara paralel mampu meningkatkan sensitivitas deteksi dibandingkan penggunaan satu metode saja. Oleh karena itu, kedua metode tersebut direkomendasikan sebagai alat skrining dalam kegiatan surveilans maupun pemeriksaan kesehatan kambing dan domba yang akan dilalulintaskan. Penulis juga menekankan pentingnya pengembangan antigen yang lebih spesifik terhadap Brucella melitensis agar akurasi diagnosis dapat terus ditingkatkan.

Dalam perspektif karantina hewan, keberadaan Brucella melitensis memiliki arti yang sangat strategis. Penyebaran penyakit melalui lalu lintas kambing dan domba merupakan salah satu jalur yang paling mungkin terjadi apabila pengawasan tidak dilakukan secara optimal. Oleh karena itu, tindakan karantina tidak hanya berfungsi sebagai persyaratan administratif dalam perpindahan ternak, tetapi juga menjadi instrumen utama untuk mencegah penyebaran penyakit dari daerah tertular menuju daerah yang masih bebas. Pemeriksaan dokumen kesehatan, inspeksi klinis, pengambilan sampel untuk pemeriksaan laboratorium, serta penerapan biosekuriti selama proses pengangkutan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam upaya mitigasi risiko penyebaran bruselosis.

Pengendalian Brucella melitensis memerlukan pendekatan yang terintegrasi melalui konsep One Health, yaitu kolaborasi antara sektor kesehatan hewan, kesehatan masyarakat, dan lingkungan. Upaya tersebut mencakup peningkatan surveilans, pengawasan lalu lintas ternak, edukasi peternak mengenai biosekuriti, pelaporan kasus secara cepat, serta penguatan kapasitas laboratorium veteriner. Dengan semakin meningkatnya mobilitas ternak dan perdagangan hewan antardaerah, kewaspadaan terhadap Brucella melitensis harus terus ditingkatkan agar penyakit ini tidak berkembang menjadi ancaman yang lebih besar bagi peternakan nasional maupun kesehatan masyarakat Indonesia.


Daftar Pustaka

  1. Moreno E, Moriyón I. Brucella melitensis: A Nasty Bug with Hidden Credentials for Virulence. Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America (PNAS). 2002;99(1):1–3.
  2. Siswani, dkk. Distribusi Kejadian Brucella melitensis di Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat Tahun 2017. Diagnosa Veteriner. 2018;17(3).
  3. World Health Organization. (2020, July 29). Brucellosis. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/brucellosis



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Telur Tetas: Menjaga Kehidupan dari Dalam Cangkang

Di balik kulit cangkang yang keras, tersimpan rahasia kehidupan yang menakjubkan. Telur tetas bukan sekadar bahan pangan; ia adalah awal dari perjalanan seekor unggas baru. Bagi peternak, telur tetas adalah modal berharga untuk memastikan keberlanjutan produksi. Sementara bagi peneliti dan pecinta satwa, telur tetas merupakan contoh sempurna bagaimana keteraturan alam dapat berpadu dengan sentuhan teknologi. Telur tetas adalah telur yang telah dibuahi oleh pejantan dan memiliki potensi untuk menetas menjadi anak unggas. Di dalamnya terdapat embrio yang, jika mendapatkan suhu, kelembapan, dan perlakuan yang tepat, akan berkembang hingga memecahkan cangkang. Proses ini dapat terjadi secara alami melalui pengeraman induk, atau secara buatan dengan menggunakan mesin tetas atau inkubator. Namun, tidak semua telur dapat dijadikan telur tetas. Hanya telur yang memenuhi kriteria tertentu yang memiliki peluang menetas tinggi. Telur tetas yang baik berasal dari induk yang sehat dan bebas penyaki...

Pendekatan Feline-Friendly dalam Menangani Kucing di Klinik Hewan

Kucing (Felis catus) merupakan salah satu hewan peliharaan paling populer di dunia, namun tingkat kunjungannya ke klinik hewan masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan anjing. Data menunjukkan bahwa 72% kucing hanya berkunjung ke dokter hewan kurang dari satu kali dalam setahun, sementara untuk anjing hanya 42%. Beberapa alasan utama adalah sulitnya membawa kucing ke klinik, reaksi stres kucing saat berada di praktik veteriner, dan cara penanganan kucing yang kadang kurang tepat. Sayangnya, informasi tentang bagaimana membuat kunjungan ke dokter hewan menjadi lebih nyaman bagi kucing, pemilik, maupun tim veteriner masih terbatas. Sejarah hubungan manusia dengan kucing dimulai sekitar 10.000 tahun lalu. Awalnya, relasi ini bersifat mutualisme, di mana kucing membantu manusia mengendalikan populasi tikus pada persediaan pangan, sementara manusia menyediakan sumber makanan yang stabil. Tidak seperti anjing yang mengalami banyak perubahan genetik selama domestikasi, kucing tetap mempe...

Ancaman Kepunahan Hewan Karnivora

Oleh : Alimansyah Putra S.K.H Karnivora adalah hewan yang makanannya kebanyakan adalah daging, baik yang dimakan hidup-hidup atau berasal dari daging hewan yang sudah mati. Kata karnivora berasal dari bahasa Latin carne yang berarti daging dan vorare yang berarti "memakan"). Bangsa carnivora merupakan bagian dari kelas mamalia yang memiliki gigi yang besar dan tajam. Peranan bangsa carnivora yang memiliki sifat karnivora (sebagai pemakan daging) cukup besar dalam dunia ekologi. Primack & Corlett (2005) menyatakan bahwa karnivora merupakan elemen yang penting pada komunitas satwaliar. Hilangnya jenis-jenis satwa karnivora akan menyebabkan terjadinya ledakan populasi hewan-hewan herbivora ataupun sumber pakan satwa karnivora.