Langsung ke konten utama

Waspada Antraks: Kenali Risiko dan Pentingnya Pengawasan Hewan

Menjelang Idul Adha, kebutuhan akan hewan kurban seperti sapi, kambing, dan domba meningkat pesat. Di tengah tingginya aktivitas jual beli dan lalu lintas ternak, penting bagi kita untuk tidak hanya fokus pada ketersediaan hewan, tetapi juga memastikan kesehatannya. Salah satu penyakit yang perlu diwaspadai adalah Antraks, yang dapat menyerang sapi dan berpotensi berdampak pada kesehatan manusia. Yuk, kenali lebih jauh penyakit ini agar kita bisa lebih waspada dan bijak dalam memilih hewan kurban yang sehat.

Mengenal Penyakit Antraks

Antraks merupakan penyakit bakteri akut yang umumnya menyerang hewan herbivora seperti sapi, kerbau, atau hewan ruminansia lainnya. Agen penyebabnya adalah bakteri Bacillus anthracis yang merupakan berbentuk batang Gram-positif yang membentuk spora (WOAH, 2023). Penyakit antraks dapat bersifaat zoonosis dan menyerang manusia. Laporan terkait adanya penyakit antraks pada manusia pernah dilaporkan dibeberapa daerah di Indonesia. Hidayatullah et al., (2023) menyebutkan bahwa gejala klinik kasus antraks pada manusia dapat berupa demam tinggi, pembengkakan, dan kesulitan bernapas. Pada kasus yang parah dapat menyebabkan kematian.

Bakteri Antraks bukan hanya dikenal dapat menyebabkan penyakit zoonosis berbahaya, tetapi juga memiliki sejarah panjang sebagai agen yang berpotensi digunakan dalam bioterorisme. Bioterorisme sendiri merupakan penggunaan agen biologis seperti bakteri, virus, atau toksinnya secara sengaja untuk menimbulkan penyakit, kematian, serta gangguan sosial dan ekonomi. Dalam berbagai literatur, antraks termasuk dalam kategori agen biologis berisiko tinggi karena memiliki tingkat kematian yang tinggi, stabil di lingkungan, serta relatif mudah disebarkan (Chugh, 2019). Pada tahun 2001, B. anthracis digunakan sebagai senjata terorisme yang menyebabkan 5 kematian dan 22 kasus penyakit. Kemungkinan karena metode penyebaran melalui surat, tidak ditemukan kasus penyakit pada hewan akibat serangan tersebut. Spora yang dimodifikasi sebagai senjata biologis merupakan ancaman bagi populasi manusia dan hewan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa pelepasan 50 kg B. anthracis dari arah angin menuju pusat populasi berjumlah 500.000 jiwa dapat menyebabkan sekitar 95.000 kematian dan 125.000 kasus rawat inap (Galante & Fasanella, 2024).

Salah satu keunikan Bacillus anthracis adalah kemampuannya membentuk spora ketika berada di lingkungan terbuka. Spora ini bersifat sangat resisten terhadap berbagai kondisi ekstrem, seperti perubahan suhu, pH, maupun paparan bahan kimia tertentu. Ketahanan tersebut memungkinkan spora bertahan lama di lingkungan, khususnya di tanah, sehingga menjadikan antraks sebagai penyakit yang sulit dieliminasi secara menyeluruh (Adji & Natalia 2006). Keberadaan spora di lingkungan yang dapat bertahan lama menyebabkan potensi kemunculan kembali kasus tetap ada, terutama di daerah yang memiliki riwayat kejadian sebelumnya. Selain itu, bakteri ini memiliki kemampuan untuk menghasilkan toksin yang berperan penting dalam proses patogenesis. Toksin tersebut menyebabkan gangguan sistemik yang serius pada hewan, yang dalam banyak kasus berujung pada kematian dalam waktu singkat. Tingkat keganasan ini menjadikan antraks sebagai salah satu penyakit strategis yang mendapat perhatian khusus dalam kesehatan hewan (WOAH, 2023).

 

Gejala Klinis

Kasus antraks dapat dimanifestasikan dalam bentuk perakut, akut, subakut, maupun pada kasus yang jarang bisa dalam bentuk kronis. Walaupun demikian sebagian besar kasus berlangsung sangat cepat (perakut) hingga menyebabkan terjadinya kematian mendadak tanpa menunjukkan gejala yang jelas sebelumnya. Kasus antraks yang bersifat akut dan sub akut demam dapat muncul secara tiba-tiba (suhu tubuh dapat mencapai 41,5°C ). Hewan akan menunjukkan gejala tidak tenang, dan penurunan aktifitas secara drastis, gangguan pernapasan, kejang, ruminasi berhenti, produksi susu berkurang secara signifikan, dan hewan hamil dapat mengalami keguguran hingga menyebabkan kematian. Beberapa infeksi ditandai dengan edema subkutan lokal, dan pembengkakan dapat sangat luas. Area yang paling sering terlibat adalah bagian ventral leher, dada, dan bahu. Gejala yang paling khas dari kasus antraks adalah adanya perdarahan dari lubang kumlah seperi anus, mulut, telinga, dan hidung. Sementara itu, satu-satunya gejala pada bentuk kronis mungkin berupa pembesaran kelenjar getah bening (Galante & Fasanella, 2024).

Hewan yang mati akibat antraks biasnya menunjukkan adanya darah berwarna gelap dapat merembes dari mulut, lubang hidung, dan anus, disertai pembengkakan yang nyata serta pembusukan tubuh yang cepat. Bila ditemukan adanya gejala ini makanya sebaiknya hewan segera dikuburkan atau dilaporkan pada petugas Kesehatan hewan terdekat secepatnya. Bila tanpa sengaja hewan dinekropsi maka lesi septikemik akan terlihat jelas. Darahnya berwarna gelap dan mengental serta sulit membeku. Perdarahan dengan berbagai ukuran sering ditemukan pada permukaan serosa abdomen dan toraks, serta pada epikardium dan endokardium. Efusi yang bengkak dan kemerahan umumnya terdapat di bawah serosa berbagai organ, di antara kelompok otot rangka, dan di dalam subkutan. Perdarahan sering terjadi sepanjang mukosa saluran pencernaan, dan ulkus, terutama di atas Peyer’s patches, mungkin terdapat. Limpa yang membesar, berwarna merah gelap atau hitam, lunak, dan setengah cair sering ditemukan. Hati, ginjal, dan kelenjar getah bening biasanya mengalami kongesti dan membesar. Jika tengkorak dibuka, meningitis mungkin teramati (Galante & Fasanella, 2024).

 

Penularan

Pada ternak, terutama sapi, kambing, dan domba, infeksi antraks umumnya terjadi melalui luka, tertelan, atau terhirup, spora antraks menginfeksi makrofag, berkecambah, dan berkembang biak. Pada infeksi kulit dan saluran pencernaan, proliferasi dapat terjadi di lokasi infeksi dan di kelenjar getah bening yang mengalirkan cairan dari lokasi infeksi. Toksin mematikan dan toksin edema diproduksi oleh B. anthracis dan masing-masing menyebabkan nekrosis lokal dan edema luas, yang merupakan ciri khas penyakit ini. Seiring bakteri berkembang biak di kelenjar getah bening, toksemia berkembang dan bakteremia dapat terjadi. Dengan meningkatnya produksi toksin, potensi kerusakan jaringan yang menyebar dan kegagalan organ pun meningkat.

Setelah bakteri vegetatif dikeluarkan dari hewan setelah kematian (melalui pembengkakan bangkai, pemakan bangkai, atau pemeriksaan postmortem), kandungan oksigen di udara memicu pembentukan spora. Spora relatif tahan terhadap suhu ekstrem, desinfeksi kimiawi, dan pengeringan. Tindakan nekropsi tidak disarankan karena berpotensi menyebabkan tumpahan darah dan sel vegetatif terpapar udara, yang mengakibatkan produksi spora dalam jumlah besar. Karena perubahan pH yang cepat setelah kematian dan pembusukan, sel vegetatif dalam bangkai yang belum dibuka akan mati dengan cepat tanpa membentuk spora.

Pada manusia, antraks umumnya terjadi akibat paparan langsung terhadap hewan terinfeksi atau produk hewan yang terkontaminasi, seperti daging, kulit, maupun darah. Penyakit ini tidak ditularkan antar manusia, melainkan terjadi melalui kontak dengan sumber spora Bacillus anthracis dari lingkungan atau material terinfeksi. Jalur penularan utama meliputi kontak melalui kulit, konsumsi bahan pangan terkontaminasi, serta inhalasi spora.

Infeksi pada manusia paling sering terjadi setelah kontak dengan karkas hewan atau produk asal hewan yang terinfeksi. Di daerah dengan praktik pemotongan hewan secara tradisional dan kondisi sanitasi yang rendah, satu ekor sapi yang terinfeksi dapat menjadi sumber penularan bagi sejumlah kasus pada manusia. Sebaliknya, di negara dengan sistem kesehatan dan pengawasan yang lebih baik, kejadian antraks pada manusia relatif jarang, salah satunya karena tingkat paparan yang lebih rendah serta adanya upaya pengendalian yang lebih efektif. Di Indonesia kasus antraks masih marak terjadi salah satunya akibat praktek penyemblihan hewan yang masih tradiosional. Riswanto et al. (2021) melaporkan adanya kasus infeksi antraks di Gunung Kidul, Yogyakarta, Indonesia yang terjadi pada seorang laki-laki berusia 60 tahun dengan riwayat paparan langsung saat menyembelih sapi yang diduga terinfeksi, sehingga menyebabkan terjadinya antraks kulit (cutaneous anthrax) akibat masuknya spora melalui luka pada tangan.

Secara klinis, antraks pada manusia dapat ditunjukkan dalam beberapa bentuk. Bentuk yang paling umum adalah antraks kulit (cutaneous anthrax), yang menyumbang sebagian besar kasus infeksi alami. Selain itu, antraks gastrointestinal dapat terjadi akibat konsumsi daging yang terkontaminasi dan tidak dimasak dengan sempurna, termasuk bentuk yang melibatkan area faring. Pada kondisi tertentu yang melibatkan paparan tinggi, seperti di laboratorium, industri pengolahan bahan hewan, atau akibat penggunaan spora sebagai agen biologis, dapat terjadi antraks inhalasi yang dikenal juga sebagai “wool sorter’s disease”. Bentuk ini merupakan manifestasi paling berat, ditandai oleh keterlibatan kelenjar limfa mediastinum dengan perdarahan, efusi pleura hemoragik, septicemia berat, serta meningitis, dan memiliki tingkat mortalitas yang sangat tinggi. Selain itu, bentuk yang lebih jarang adalah antraks injeksi, yang terjadi akibat inokulasi spora secara subkutan, dan sebagian besar dilaporkan berkaitan dengan penggunaan narkotika suntik yang terkontaminasi (Galante & Fasanella, 2024).

Kondisi ini menuntut adanya kewaspadaan berkelanjutan serta pemahaman yang baik mengenai penyakit antraks, khususnya dalam konteks meningkatnya lalu lintas ternak menjelang Idul Kurban. Selain itu, pengawasan terhadap lalu lintas hewan juga menjadi langkah penting dalam mencegah penyebaran antraks ke wilayah baru. Hewan yang dilalulintaskan harus dipastikan dalam kondisi sehat dan bebas dari penyakit, sehingga risiko penyebaran dapat diminimalkan sejak awal.

 

Diagnosis

Diagnosis antraks pada hewan tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan tanda klinis, karena gejalanya sering tidak spesifik dan dapat menyerupai berbagai kondisi lain yang menyebabkan kematian mendadak. Oleh karena itu, pemeriksaan laboratorium memegang peranan penting dalam konfirmasi diagnosis. Sampel yang direkomendasikan umumnya berupa swab darah yang dikeringkan untuk mendukung proses sporulasi dan mengurangi kontaminasi mikroorganisme lain. Pada karkas yang telah mati lebih dari tiga hari, pengambilan sampel dapat dilakukan dari mukosa turbinate nasal atau jaringan turbinate, sedangkan pada kasus dengan lesi lokal seperti pada babi, dianjurkan pengambilan jaringan limfatik yang terinfeksi secara aseptik. Konfirmasi dapat dilakukan melalui kultur bakteri, PCR, dan pewarnaan imunofluoresen, sementara pemeriksaan serologis seperti ELISA dan Western blot tersedia di laboratorium rujukan tertentu. Pemeriksaan mikroskopis dengan pewarnaan khusus masih dapat digunakan, namun memiliki keterbatasan berupa kemungkinan hasil positif palsu (Galante & Fasanella, 2024).

 

Dalam praktik diagnostik lapangan, antraks perlu dibedakan dari berbagai penyakit lain yang juga dapat menyebabkan kematian mendadak pada hewan produksi. Pada sapi dan domba, kondisi seperti infeksi klostridial, bloat, sengatan petir, serta keracunan tanaman atau logam berat sering menjadi diagnosis banding, selain penyakit seperti leptospirosis akut, bacillary hemoglobinuria, dan anaplasmosis. Pada kuda, antraks dapat menyerupai anemia infeksius akut, kolik, purpura, keracunan timbal, serta gangguan akibat faktor lingkungan seperti heat stroke atau sengatan petir. Sementara pada babi, diferensial diagnosis mencakup classical swine fever, African swine fever, dan malignant edema faringeal, sedangkan pada anjing dapat menyerupai infeksi sistemik akut atau pembengkakan faring akibat penyebab lain. Hal ini menegaskan pentingnya konfirmasi laboratorium untuk memastikan diagnosis antraks secara akurat (Galante & Fasanella, 2024).

 

 

Daftar Pustaka

  1. Adji, R. S., & Natalia, L. I. L. Y. (2006). Pengendalian penyakit antraks: Diagnosis, vaksinasi dan investigasi. Wartazoa16, 198-205.
  2. Chugh, T. (2019). Bioterrorism: Clinical and public health aspects of anthrax. Current Medicine Research and Practice9(3), 110-111.
  3. Galante, D., & Fasanella, A. (2024). Anthrax in animals (Splenic fever, Siberian ulcer, charbon, Milzbrand). In Merck Veterinary Manual. Merck & Co., Inc. https://www.merckvetmanual.com/infectious-diseases/anthrax/anthrax-in-animals
  4. Hidayatullah, A. S., Purnomo, S., Abdurrahman, M. A., Lestari, S. W., & Pratiwi, A. N. (2023). Dampak Bakteri Antraks Terhadap Manusia dan Hewan Studi Masyarakat Gunung Kidul. Buletin Pengabdian Multidisiplin1(2), 82-92.
  5. Riswanto, Redhono D., & Nurhayatun, E. (2021). Antraks kulit di Gunung Kidul, Yogyakarta: Laporan kasus. Jurnal Penyakit Dalam Indonesia| Vol8(3).
  6. World Organisation for Animal Health (WOAH). 2023. Terrestrial Animal Health Code: Chapter 8.1 Anthrax. Diakses 22 April  2026, < https://www.woah.org/en/what-we-do/standards/codes-and-manuals/#chapter/?rid=297&language=102&ismanual=true>
  7.  

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mendeteksi Bahaya Tersembunyi: Salmonella spp. pada Telur dan Daging Ayam Lintas Pulau

Salmonelosis merupakan salah satu penyakit zoonotik berbasis makanan ( food-borne disease ) yang paling penting di seluruh dunia. Agen penyebab utamanya, Salmonella spp. , dapat menginfeksi manusia melalui konsumsi produk hewan yang terkontaminasi, terutama telur dan daging ayam. Produk unggas ini dikenal sebagai reservoir utama Salmonella spp. , sehingga menjadi titik kritis dalam upaya pengendalian dan pencegahan penyakit. Penularan Salmonella spp. terjadi sepanjang rantai makanan, mulai dari proses produksi di peternakan, penanganan pasca panen, hingga distribusi, termasuk saat produk dilalulintaskan antar pulau. Ketidakhigienisan selama proses ini meningkatkan risiko kontaminasi, memperbesar peluang penularan kepada konsumen. Dalam sebuah penelitian, dilakukan deteksi Salmonella spp. pada telur ayam konsumsi yang berasal dari empat pengirim berbeda antar pulau. Sebanyak 270 sampel diambil menggunakan metode acak berlapis dan diperiksa dengan metode konvensional. Has...

Telur Tetas: Menjaga Kehidupan dari Dalam Cangkang

Di balik kulit cangkang yang keras, tersimpan rahasia kehidupan yang menakjubkan. Telur tetas bukan sekadar bahan pangan; ia adalah awal dari perjalanan seekor unggas baru. Bagi peternak, telur tetas adalah modal berharga untuk memastikan keberlanjutan produksi. Sementara bagi peneliti dan pecinta satwa, telur tetas merupakan contoh sempurna bagaimana keteraturan alam dapat berpadu dengan sentuhan teknologi. Telur tetas adalah telur yang telah dibuahi oleh pejantan dan memiliki potensi untuk menetas menjadi anak unggas. Di dalamnya terdapat embrio yang, jika mendapatkan suhu, kelembapan, dan perlakuan yang tepat, akan berkembang hingga memecahkan cangkang. Proses ini dapat terjadi secara alami melalui pengeraman induk, atau secara buatan dengan menggunakan mesin tetas atau inkubator. Namun, tidak semua telur dapat dijadikan telur tetas. Hanya telur yang memenuhi kriteria tertentu yang memiliki peluang menetas tinggi. Telur tetas yang baik berasal dari induk yang sehat dan bebas penyaki...

Japanese Encephalitis di Indonesia

Japanese Encephalitis (JE) merupakan penyakit zoonosa yang dapat menyebabkan terjadinya radang otak pada hewan dan manusia. Penyakit ini bersifat arbovirus karena ditularkan dari hewan kemanusia melalui gigitan nyamuk. Penyakit ini telah menyebar luas di Asia bagian Timur seperti Jepang, Korea, Siberia, China, Taiwan, Thailand, laos, Kamboja, Vietnam. Philipina, Malaysia, Indonesia, Myanmar, Banglades, India, Srilangka, dan Nepal. Di Indonesia, kasus JE pertama kali dilaporkan pada tahun 1960 ( Erlanger 2010) . Kasus JE banyak di laporkan di daerah Bali. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Liu et al. 2009 menyebutkan bahwa identifikasi kasus encephalitis dirumah sakit di Bali antara tahun 2001-2004 menemukan 163 kasus encephalitis dan 94 diantranya secara serologis mengarah pada kasus JE. Selain itu , kasus JE pada manusia juga dilaporkan di beberapa daerah yaitu di Sumatra Barat, Kalimantan Barat, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggra Tim...