Biawak
air (Varanus salvator) merupakan salah spesies biawak yang banyak
ditemukan wilayah Asia seperti Sri Lanka, utara India, Bangladesh, Burma,
Vietnam, dan Hainan (China) hingga ke wilayah Malaysia dan Indonesia. Biawak air memiliki tubuh yang besar dan
panjang, dengan kulit bersisik kasar dan berwarna coklat gelap hingga hitam.
Ada bercak-bercak kuning atau oranye pada tubuh mereka, yang dapat membantu
mereka menyamar di dalam air atau vegetasi disekitar (De Lisle, 2007).
Biawak
air biasanya ditemukan di dekat air, seperti sungai, danau, rawa, mangrove, dan
hutan hujan. Mereka memiliki kemampuan berenang yang baik dan sering kali
terlihat berjemur di tepi air. Habitat ini memberi mereka akses ke berbagai
sumber makanan, seperti ikan, amfibi, reptil kecil, burung, dan mamalia kecil. Biawak air memiliki kemampuan adaptasi yang
cukup baik terhadap air tawar dan air asun, hal ini menyebabkan biawak air
banyak menghuni pulai-pulai terpencil di Indonesia. Ukurannya yang besar
memberikan keuntungan, memberikan cadangan energi dan kekuatan untuk bertahan
selama perjalanan laut yang panjang dan meningkatkan peluang mencapai daratan.
Kemungkinan pendaratan biawak air ini dapat dipicu oleh gelombang balik dari tsunami
yang cukup sering terjadi (De
Lisle, 2007).
Pola Tingkah Laku
Biawak
Pada
pengamatan tingkah laku, biawak air lebih sering terlihat berdiam diri disertai
aktivitas berjemur di bawah sinar matahari. Pola ini sejalan dengan laporan
Trivalairat & Srikosamatara (2023) yang menyebutkan bahwa setelah berburu
pada pagi hari, biawak cenderung menghabiskan waktu cukup lama untuk berjemur
dan beristirahat, termasuk mengapung di perairan pada sore hari. Aktivitas
hariannya juga menunjukkan pola bimodal, dengan puncak kegiatan berburu pada
pagi hari (06.00–08.00) dan kembali aktif mencari sisa pakan pada sore hari
(15.00–17.00).
Perilaku berjemur yang teramati merupakan
karakter umum biawak di alam. Biawak biasanya merebahkan tubuh atau menempelkan
seluruh bagian tubuhnya pada permukaan tanah atau batu setelah melakukan
aktivitas seperti mencari makan (De Lisle, 2007). Aktivitas ini berkaitan erat
dengan proses fisiologis, terutama untuk menjaga kestabilan kerja enzim,
hormon, dan metabolisme tubuh. Sebagai hewan reptil yang bersifat ektoterm,
biawak tidak mampu mengatur suhu tubuh secara internal, sehingga sangat
bergantung pada kondisi lingkungan. Oleh karena itu, perilaku berjemur menjadi
bagian dari mekanisme termoregulasi untuk mempertahankan suhu tubuh pada
kisaran optimal. Intensitas dan durasi aktivitas ini tidak hanya dipengaruhi
oleh suhu lingkungan, tetapi juga oleh kondisi energi atau asupan nutrisi, di
mana individu dengan kecukupan nutrisi cenderung memiliki durasi berjemur yang
lebih lama.
Selain berjemur, biawak juga menunjukkan
kecenderungan kuat untuk berada di dalam air. Hanjar et al. (2016) menyatakan
bahwa biawak merupakan satwa yang berasosiasi erat dengan habitat perairan dan
mampu menempati berbagai relung ekologis. Hal ini didukung oleh De Lisle (2007)
yang melaporkan bahwa biawak di alam sering ditemukan berenang, baik di dekat
tepi maupun menuju bagian tengah perairan. Aktivitas berenang ini juga memiliki
proporsi yang cukup signifikan dalam pola harian, yakni sekitar 10% per jam,
terutama pada rentang waktu pagi hingga sore hari (Trivalairat &
Srikosamatara, 2023).
Perilaku
Mencari Makan
Selain pola tingkah laku biawak yang
disampaikan diatas, pola tingkah laku biawak lainya yang menarik ialah
aktivitas dalam mencari makan. Secara umum, aktivitas mencari makan dilakukan
dua kali sehari, terutama pada pagi (06:00–08:00) dan sore (15:00–17:00). Aktivitas
mencari makan pada pagi umumnya merupakan predasi kelompok terhadap ikan besar
di danau, sementara di sore hari mencari sisa-sisa makanan ikan dari para
penjaga kebun binatang. Tingkat mencari makan berkorelasi positif dengan
berenang. Biawak air
adalah pemangsa yang tangguh dan memiliki diet yang bervariasi. Mereka memangsa
ikan, katak, reptil kecil, burung, dan mamalia kecil. Mereka juga akan memakan
bangkai dan telur burung atau reptil (Trivalairat & Srikosamatara, 2023).
Perilaku Seksual
Beberapa perilaku seksual dari biawak air
yang pernah dilaporkan antara lain ialah adanya perilaku kompetisi antara
jantan, terutama pertarungan (wrestling) antara jantan besar selama musim
kawin. Tujuannya adalah untuk bersaing dan mempertahankan wilayah, sumber daya,
dan peluang untuk membujuk betina. Jantan dominan biasanya menarik banyak
betina ke wilayahnya, membentuk kelompok betina (perilaku poligami).
Jantan-jantan kecil yang tidak memiliki wilayah teritorial mengembangkan
strategi untuk membujuk betina selama musim kawin, seperti berenang atau
bersembunyi di sekitar betina dalam wilayah jantan dominan sebelum cepat-cepat
mendekati betina untuk membujuk sebelum jantan dominan kembali. Setelah kawin, biawak air bertelur dan mencari tempat
bersarang yang aman, seperti lubang atau tumpukan daun kering. Setelah
bertelur, induk biawak akan menjaga sarangnya dan dapat menjaga telur-telurnya
hingga menetas (Trivalairat & Srikosamatara, 2023).
Dari penjelasan diatas maka dapat
disimpulkan bahwa biawak air (Varanus salvator) adalah spesies biawak yang
tersebar luas di Asia, termasuk Indonesia. Dengan tubuh besar dan kemampuan
berenang yang baik, biawak air mendiami berbagai habitat air seperti sungai,
danau, rawa, mangrove, dan hutan hujan. Aktivitas harian melibatkan berjemur,
berenang, dan mencari makan, dengan diet yang bervariasi termasuk ikan, katak,
reptil kecil, burung, mamalia kecil, serta bangkai dan telur burung atau
reptil. Perilaku seksual biawak air mencakup kompetisi antar jantan, perilaku
poligami, dan strategi kawin yang melibatkan jantan-jantan kecil. Pada umumnya,
adaptasi yang baik terhadap lingkungan air, termoregulasi, dan perilaku
reproduksi mencirikan keberhasilan biawak air dalam beradaptasi dan bertahan
dalam berbagai ekosistem.
Daftar Pustaka
- Trivalairat, P., Srikosamatara, S., 2023,”Daily activities of water
monitors (Varanus salvator macromaculatus Deraniyagala, 1944) in urban wetland,
Bangkok, Thailand”, Herpetozoa
36: 189–201 (2023).
- De Lisle, H.F., 2007, “Observations on Varanus s. salvator in North Sulawesi”, Biawak 1(2): 59-66
- Hanjar,
Nitibaskara TU
, Iskandar S, 2016, “Populasi
Dan Pola Aktivitas Harian Biawak Air (Varanus Salvator) Di Kawasan Konservasi
Laut Daerah Pulau Biawak, Indramayu”, Jurnal Nusa Sylva Vol 16 No 1 tahun 2016. 18-23

Komentar
Posting Komentar