Foodborne disease merupakan Penyakit infeksi yang ditimbulkan akibat mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi mikroorganisme. Pengan asal hewan merupakan slah satu pengan yang paling sering membawa mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit jika tidak dioleh dengan baik. Berbagai macam jenis mikroorganisme yang dapat menyebabkan infeksi pada manusia salah satunya ialah Clostridium perfringens
Clostridium perfringens termasuk dalam bakteri gram positif yang dapat membentuk spora dan menghasilkan toxin. Infeksi Clostridium perfringens pada manusia dapat menyebabkan kondisi demam, nyeri perut, diare yang tidak berdarah, dan muntah. Pada beberapa kasus dapat terjadi hipotensi, takikardia, dan gangguan homeostasis termal. Walaupun demikian gejala kasus ini sangat beragam dan sangat tergantung pada kondisi individu. Toxin yang merupakan faktor virulensi bakteri clostridium perfrigens terdiri dari beberapa kelompok salah satunya ialah enterotoksin atau yang biasa disebut Clostridium perfringens Enterotoksin (CPE) (Gohari et al., 2021).
Pemahaman terkait dengan faktor virulensi bakteri clostridium
perfrigens ini sangat diperlukan, mengingat bahwa laporan-laporan kasus ini
terus terjadi. Dengan memahami dan mengetahuo faktor virulensi ini maka
pemahaman terkait bakteri ini menjadi lebih mendalam, sehingga
Faktor Virulensi
Bakteri clostridium perfrigens merupakan bakteri anaerob
yang memiliki waktu pembelahan sel yang sangat cepat (<10 menit). Hal ini
menyebabkan bakteri ini mencapai beban patogenik yang tinggi dengan cepat dalam
makanan, luka, atau usus. Bakteri clostridium perfrigens tidak memiliki
flagela tetapi memiliki kemampuan gerak meluncur yang dimediasi oleh fili tipe
IV, yang juga berkontribusi pada fungsi lain yang berpotensi terkait virulensi
seperti pembentukan biofilm dan adherensi. Faktor virulensi utama dari bakteri
ini ialah toksin yang sangat kuat. Toksin yang dihasilkan oleh clostridium
perfrigens sangat bervariasi, hal ini bisa dipengaruhi oleh jenis strain
yang berbeda akan menghasilkan toksin yang berbeda. Salah satu jenis toksin
yang merupakan faktor virulensi utama dari clostridium perfrigens ialah
enterotoksin atau yang biasa disebut CPE (clostridium perfrigens enterotoxin)
(Gohari et al., 2021).
CPE
adalah sebuah polipeptida tunggal dengan berat molekul 35 kDa yang diproduksi
oleh semua strain tipe F dan beberapa strain tipe C, D, dan E. Toksin ini tidak
memiliki homologi urutan asam amino utama dengan toksin lain tetapi secara
struktural termasuk dalam keluarga β-PFT (aerolysin). Protein CPE terdiri dari
domain pengikat reseptor pada ujung C-terminal dan domain sitotoksik pada ujung
N-terminal yang memediasi oligomerisasi dan penanaman membran saat pembentukan
pori. Enterotoxin dari clostridium perfrigens (CPE) dapat menyebabkan
penyakit saluran pencernaan yang sangat umum pada manusia dan hewan mamalia.
CPE merupakan foodborne disease yang memiliki kemampuan untuk merusak
penghalang saluran pencernaan dan menimbulkan sitotoksisitas (Vecchio et
al., 2021).
Patogenesis
Patogenitas
dari toksin CPE dimulai dengan adanya ikatannya pada reseptor, yang mencakup
beberapa jenis claudins. Claudins merupakan bagian dari protein membran plasma
yang berperan menjaga struktur dan fungsi sambungan yang dibentuk oleh sel-sel
epitel dan endotel. Pada kasus infeksi CPE, claudins berperan sebagai reseptor
yang berikatan dengan CpE di permukaan sel. Enterotoksin CpE mengenali dan
berikatan dengan claudin melalui domain C-terminalnya (cCpE), yang memicu
kerusakan sambungan rapat, breakdown dari penghalang saluran pencernaan, dan
terjadinya sitotoksisitas. Kemampuan CPE dalam mengikat claudins bervariasi.
Misalnya, CPE mengikat claudins-3 dan -4 dengan afinitas tinggi, claudins-8 dan
-14 dengan afinitas sedang, dan claudins-1 dan -2 dengan buruk atau tidak sama
sekali. Namun, ECL1 umumnya konservatif di antara semua claudins, sehingga
kemampuan sebuah claudins untuk berfungsi sebagai reseptor CPE sebagian besar
bergantung pada ECL2 yang lebih bervariasi. Keberadaan residu Asp dalam ECL2 penting
bagi claudins untuk mengikat CPE dengan afinitas sedang hingga tinggi (Gohari et al., 2021).
Claudins
manusia memiliki berbagai ukuran dan diklasifikasikan berdasarkan motif
konservatif WGLWCC. Claudins memiliki topologi struktural yang terdiri dari
empat segmen transmembran alfa (TM) dan dua segmen ekstraseluler (ECS) yang
membentuk lembaran β-paralel yang terdiri dari lima helai (β-sheet). Claudins
berinteraksi lateral dalam sambungan rapat dan secara tegak lurus dalam
interaksi trans, membentuk hambatan permselektif terhadap ion sambil melekatkan
sel-sel yang berdekatan. CPE dapat mengganggu integritas saluran pencernaan
dengan cara melalui disosiasi interaksi cis dan trans claudins yang disebabkan
oleh toksin, yang mengakibatkan kerusakan fungsi penghalang sambungan rapat
serta membunuh sel epitel melalui pori ion yang berikatan dengan claudins.
Walaupun ekspresi claudins di saluran pencernaan Spesifik untuk manusia tidak diperlukan
ikan CPE, variasi dalam sekuensi dan struktur claudins menyebabkan hanya
beberapa subtype yang memeiliki kemampuan berikatan dengan CPE (Vecchio et al.,
2021)
Setelah
terikat pada reseptor claudins, CPE terlokalisasi dalam kompleks kecil sekitar
90 kDa yang juga mengandung claudins reseptor dan claudins-1 non-reseptor.
Sekitar enam kompleks kecil mengoligomerisasi membentuk pra-pori sekitar 450
kDa di permukaan membran plasma. Setiap CPE dalam pra-pori kemudian
memperpanjang loop β-helai yang membentuk barel β yang menanamkan dirinya ke
dalam membran untuk membentuk pori sepanjang 1,4 nm. Asosiasi claudins-1 dengan
pori CPE berkontribusi pada stabilitas kompleks dan resistensi terhadap
tripsin. Pori CPE dapat dilewati oleh molekul-molekul kecil, terutama kation.
Perlakuan dengan dosis rendah CPE menyebabkan aliran kalsium terbatas yang
menginduksi aktivasi kalpain yang ringan untuk memicu apoptosis yang dimediasi
kaspase 3, sedangkan dosis CPE yang lebih tinggi menyebabkan aliran kalsium
yang besar yang menginduksi aktivasi kalpain yang kuat dan mengarah pada
nekroptosis yang bergantung pada MLKL. RIP1 dan RIP3 juga terlibat dalam
apoptosis dan nekroptosis yang diinduksi oleh CPE. Sel-sel Caco-2 yang terpapar
CPE dan mengalami kematian juga mengalami kerusakan morfologis, yang
mengungkapkan permukaan sel bagian basolateral dan memfasilitasi pembentukan
kompleks CPE sekitar 600 kDa yang mengandung protein sambungan rapat occludin,
bersama dengan claudins reseptor dan claudins-1. Pembentukan kompleks sekitar
600 kDa ini dapat berkontribusi pada gangguan sambungan rapat, memicu
internalisasi occludin dan claudins, dan/atau meningkatkan perubahan
permeabilitas paraselular. Penting dicatat bahwa kompleks CPE sekitar 450 kDa
terbentuk baik dalam kultur sel Caco-2 maupun dalam usus, tetapi kompleks CPE
sekitar 600 kDa hanya terdeteksi pada sel Caco-2 (Gohari et
al., 2021).
Claudins-3
dan -4 telah diidentifikasi sebagai reseptor CPE pada manusia dan mencit.
Namun, pola ekspresi dan tingkat claudins-3 dan -4 bervariasi di saluran pencernaan mamalia ini.
Penggunaan struktur kompleks antara claudins-4 manusia (hCLDN-4) dengan cCPE
memungkinkan identifikasi fitur-fitur yang digunakan CPE untuk menargetkan
claudins secara spesifik pada subtipus tertentu dan pengaruhnya terhadap
sitotoksisitas. Temuan ini membantu dalam kategorisasi reseptor dan nonreseptor
claudins untuk CPE dalam saluran pencernaan mamalia dan menjelaskan mekanisme
molekuler CPE dalam merusak claudins dan mengganggu fungsi penghalang sambungan
rapat (Vecchio et al., 2021).
Toxin
clostridium perfrigens menyebabkan
kerusakan pada sel-sel epitel usus, gangguan pencernaan, dan diare. Selain efek
toksiknya, CPE juga memiliki kemampuan untuk mempengaruhi sistem kekebalan
tubuh. CPE dapat merangsang produksi dan pelepasan sitokin pro-inflamasi seperti
interleukin-8 (IL-8), yang dapat meningkatkan peradangan lokal dan menarik
lebih banyak sel imun ke area yang terinfeksi. Enterotoxin clostridium perfringens cukup stabil dalam lingkungan asam lambung
dan tahan terhadap
pencernaan enzimatik di saluran pencernaan. Ini memungkinkan CPE untuk tetap aktif dan berfungsi
dalam mencapai dan merusak sel-sel
usus target.
Laporan kasus Oubreak
CPE (Clostridium
perfrigens Enterotoxin)
Terdapat
beberapa laporan kasus outbreak yang disebabkan oleh enterotoxin pada bakteri clostridium perfrigens, salah satunya
dilaporkan oleh Newell et al., (2023),
yang menyelidiki terkait kasus penyakit gastrointestinal akut pada karyawan
rumah sakit. Pada kasus tersebut, dilaporkan terjadinya wabah gastrointestinal
yang melibatkan staf rumah sakit di Homer, Alaska.
Penyebab wabah tersebut
diidentifikasi sebagai clostridium perfringens dan Bacillus
cereus, yang merupakan penyebab umum penyakit yang ditularkan melalui
makanan. Metode yang digunakan adalah studi kohort retrospektif terhadap staf
rumah sakit yang mengikuti acara makan siang
pada tanggal 5-7 Agustus 2021. Survei online
digunakan untuk mengidentifikasi staf rumah sakit yang mengalami
gangguan pencernaan. Pasien kasus didefinisikan sebagai orang yang melaporkan adanya
gangguan pencernaan baru (diare atau kram
perut) setelah mengonsumsi makanan selama acara makan siang. Diagnosa kasus didasarkan pada riwayat gejala dan pengambilan sampel
feses.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa dari 202 responden survei, 66 orang (32,7%)
melaporkan mengalami gangguan pencernaan akut. Dari 79 orang yang mengonsumsi
sandwich ham dan pulled pork, 64 orang (81,0%) memenuhi definisi kasus dan
makanan tersebut secara signifikan terkait dengan peningkatan kemungkinan
terjadinya gangguan pencernaan. C perfringens dan B cereus berhasil diisolasi dari sampel sandwich dengan tingkat konfirmasi yang sesuai.
Enterotoksin C perfringens juga terdeteksi dalam semua 5 sampel feses pasien
kasus. Investigator lingkungan juga melihat adanya makanan lain pada penjual
sandwich yang disimpan di luar rentang
suhu yang diperlukan (>41 °F), meskipun
tidak ditemukan kekurangan penanganan yang jelas untuk makanan yang diduga menjadi sumber
wabah.
Pencegahan dan Pengendalian CPE (Clostridium perfrigens
Enterotoxin)
Dalam pencegahan dan pengendalian penyakit yang termasuk dalam foodborne disease banyak terkait dengan lima elemen penting antara lain hukum dan peraturan pangan, manajemen kontrol makanan, layanan inspeksi, layanan laboratorium, pemantauan makanan, dan penguatan terhadap data epidemiologi, informasi, edukasi, komunikasi. Selain itu terkait dengan kasus enterotoksin yang disebabkan oleh clostridium perfrigens dapat dicegah dengan vaksinasi. Saat ini terdapat pengembangan vaksin berbasis C-CPE untuk melawan toxin yang dihasilkan clostridium perfrigens (Lan et al., 2019).
Clostridium
perfringens adalah penyebab utama keracunan makanan di seluruh dunia, dengan enterotoksinnya (CPE) menjadi faktor virulensi utama. Bagian ujung
C dari CPE (C-CPE)
bertindak sebagai toksin yang berikatan
dengan sel epitel melalui claudins di persimpangan yang rapat (tight
junctions). Namun, C-CPE memiliki antigenisitas yang rendah, sehingga
diperlukan teknologi rekayasa protein untuk meningkatkan antigenisitasnya. Para
peneliti telah mengembangkan vaksin berbasis C-CPE untuk melawan keracunan
makanan yang disebabkan oleh clostridium perfringens. Vaksin ini dirancang
untuk meningkatkan respons imun terhadap CPE. Selain itu, sifat C-CPE yang
mampu berikatan dengan claudin dapat dimanfaatkan untuk mengirimkan antigen
vaksin langsung ke jaringan limfoid terkait mukosa. Dengan menggunakan sistem
pengiriman vaksin berbasis C-CPE yang diberikan melalui hidung, respons imun
mukosa dan sistemik yang spesifik antigen dapat diinduksi (Lan et al., 2019).
KESIMPULAN
Pangan
asal hewan memiliki risiko tinggi terkontaminasi mikroorganisme patogen yang
dapat menyebabkan foodborne disease jika tidak ditangani dan diolah dengan
baik. Kontaminasi ini dapat menimbulkan gangguan kesehatan mulai dari gejala
ringan hingga berat. Oleh karena itu, penerapan higiene, sanitasi, serta
pengawasan keamanan pangan menjadi kunci utama dalam mencegah dampak negatif
terhadap kesehatan manusia.
DAFTAR PUSTAKA
- Gohari, I.M., Navarro, M.A., Li, J., Shrestha, A., Uzal, F., McClane, B.A., 2021, “Pathogenicity and virulence of Clostridium perfringens”, Virulence. 12(1):723-753. doi: 10.1080/21505594.2021.1886777. PMID: 33843463; PMCID: PMC8043184.
- Lan, H., Hosomi, K., Kunisawa, J., 2019, “Clostridium perfringens enterotoxin-based protein engineering for the vaccine design and delivery system”, Vaccine. 37(42):6232-6239. doi: 10.1016/j.vaccine.2019.08.032. Epub 2019 Aug 26. PMID: 31466706.
- Mellou, K., Kyritsi, M., Chrysostomou, A., Sideroglou, T., Georgakopoulou, T., Hadjichristodoulou, C., 2019, “Clostridium perfringens Foodborne Outbreak during an Athletic Event in Northern Greece”, Int J Environ Res Public Health. 16(20):3967. doi: 10.3390/ijerph16203967. PMID: 31627449; PMCID: PMC6843328.
- Newell, K., Helfrich, K., Isernhagen, H., Jones, M., Stickel, G., McKeel, H., Castrodale, L., dan McLaughlin, J., “Multipathogen Outbreak of Bacillus cereus and Clostridium perfringens Among Hospital Workers in Alaska”, Public Health Reports. 0(0), hal. 1-6, DOI: 10.1177/00333549231170220
- Vecchio, A. J., Rathnayake, S. S., Stroud, R. M., 2021, “Structural Basis For clostridium Perfringens Enterotoxin Targeting Of Claudins At Tight Junctions In Mammalian Gu”. Proc. Natl. Acad. Sci. U.S.A., 15(118). Doi: https://doi.org/10.1073/pnas.2024651118
.jpg)
***** good
BalasHapus