Menjelang Iduladha, banyak orang fokus memilih
hewan kurban terbaik dengan kondisi sehat dan sesuai dengan syariat. Namun, ada
satu hal penting yang sering luput dari perhatian yaitu bagaimana kondisi hewan
tersebut ditarnsportasikan menuju lokasi masjid atau tempat pemotongan. Padahal,
berbagai penelitian menunjukkan bahwa perjalanan ini merupakan salah satu fase
paling menentukan dalam kesejahteraan hewan sekaligus kualitas daging yang
dihasilkan.
Perjalanan yang Tidak Sesederhana yang Kita
Bayangkan
Bagi manusia, perjalanan mungkin hanya soal
jarak dan waktu. Tetapi bagi hewan, perjalanan bisa menjadi pengalaman yang
penuh tekanan. Dalam kajian ilmiah yang dirangkum dalam jurnal Animals (MDPI),
disebutkan bahwa transportasi adalah salah satu tahap paling berisiko
menimbulkan stres pada ternak. Pada proses Transportasi Hewan kurban sering
mengalami kondisi seperti:
- Kondisi kendaraan tidak layak
Lantai licin/rusak dan ventilasi buruk membuat hewan mudah terpeleset, panas, dan gelisah. - Pintu kendaraan tidak aman (guillotine
door)
Menakuti hewan dan meningkatkan risiko cedera saat naik/turun. - Kepadatan hewan terlalu tinggi
Hewan sulit bergerak, saling bertubrukan, dan mudah stres. - Jarak perjalanan jauh & jalan buruk
Guncangan terus-menerus menyebabkan kelelahan dan stres fisik. - Penanganan kasar oleh petugas
Penggunaan setrum, tongkat, atau teriakan keras meningkatkan ketakutan dan stres.
Akibatnya Hewan akan bernapas lebih cepat,
terlihat gelisah, bahkan ada yang sampai kelelahan dan tidak mampu berdiri. Bayangkan
berada di ruang sempit, panas, dan terus berguncang tanpa bisa beristirahat.
Hal itulah yang dialami banyak hewan selama proses tarnsportasi.
Stres pada Hewan Itu Nyata dan Terukur
Stres pada hewan bukan sekadar asumsi. Secara
ilmiah, stres bisa diamati melalui perubahan perilaku maupun kondisi tubuh.
Hewan yang mengalami stres dapat menunjukkan tanda seperti
- Gelisah
- Tidak mau naik kendaraan
- Agresif
- Mengamuk / struggling
- Berbaring terus karena lelah
Dalam beberapa penelitian, stres ini bahkan
dapat diukur melalui peningkatan detak jantung dan hormon stres dalam tubuh. Artinya,
apa yang dialami hewan selama perjalanan benar-benar berdampak secara biologis,
bukan sekadar “perasaan” saja.
Dampak Stres pada Hewan Kurban
Stres pada hewan kurban
bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga menyangkut nilai kemanusiaan dan
keagamaan. Dalam ajaran Islam, hewan harus diperlakukan dengan baik dan penuh
kasih sayang. Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin
menekankan bahwa kasih sayang tidak hanya ditujukan kepada manusia, tetapi juga
kepada hewan.
Dalam sebuah riwayat,
Rasulullah ï·º pernah melihat seekor unta yang kurus hingga punggungnya hampir
menempel dengan perutnya. Beliau bersabda: “Bertakwalah
kalian kepada Allah pada binatang-binatang ternak yang tak bisa berbicara ini.
Tunggangilah ia dengan baik-baik, dan makanlah pula dengan cara yang baik.”
(HR. Abu Daud). Hadis ini menunjukkan bahwa memperlakukan hewan dengan buruk,
termasuk membiarkannya stres, kelelahan, atau tersiksa, tidak sejalan dengan
ajaran Islam. Artinya, menjaga kondisi hewan kurban tetap baik sejak awal, termasuk
saat proses transportasi sampai dengan penyembelihan merupakan bagian dari
nilai ibadah itu sendiri.
Selain dari sisi etika dan agama, stres pada
hewan juga berdampak langsung pada kualitas daging yang dihasilkan. Salah satu
dampak yang paling sering ditemukan adalah munculnya memar pada karkas akibat
benturan selama transportasi atau penanganan yang kurang baik.
Berbagai penelitian
menunjukkan bahwa kondisi lingkungan sebelum penyembelihan seperti kebisingan,
pencahayaan, serta cara penanganandapat meningkatkan stres pada hewan dan
memengaruhi hasil akhir daging. Selain itu, stres menyebabkan cadangan energi
dalam otot menurun dan mengganggu proses alami setelah penyembelihan, sehingga
daging menjadi kurang stabil. Kondisi ini membuat daging cenderung memiliki
daya simpan lebih pendek dan lebih mudah rusak, karena lingkungan tersebut
mendukung pertumbuhan bakteri. Dengan kata lain, kualitas daging tidak hanya
ditentukan saat penyembelihan, tetapi jauh sebelumnya sejak hewan mulai
diangkut dan diperlakukan selama perjalanan.
Peran Manusia Sangat Menentukan
Salah satu temuan penting dari berbagai
penelitian adalah bahwa manusia memegang peran kunci dalam menentukan tingkat
stres hewan. Cara memperlakukan hewan dengan baik saat menaikkan ke kendaraan,
selama perjalanan, maupun saat di tempat penyembelihan, sangat berpengaruh.
Penanganan yang kasar, suara keras, atau
perlakuan yang membuat hewan takut terbukti meningkatkan stres. Sebaliknya,
penanganan yang tenang dan terlatih dapat secara signifikan mengurangi tekanan
pada hewan. Ini menunjukkan bahwa perlakuan sederhana sehari-hari sebenarnya
memiliki dampak besar. Secara umum prinsip pengendalian hewan dapat dilakukan
dengan beberapa prinsip utama
- Gunakan teknik low-stress handling
- Hindari suara keras & gerakan mendadak
- Kontrol flight zone & point of balance
- Pastikan kendaraan bersih, kering, dan tidak licin
- Pisahkan sapi agresif atau berbeda ukuran
- Istirahatkan sapi sebelum & sesudah perjalanan panjang
Bukan Hanya Soal Hewan, Tapi Juga Soal
Kualitas dan Kesehatan
Selain kualitas daging, pergerakan hewan dalam
jumlah besar menjelang Iduladha juga meningkatkan risiko penyebaran penyakit.
Oleh karena itu, memastikan hewan dalam kondisi sehat dan ditangani dengan baik
menjadi hal yang penting bagi semua pihak. Penyakit seperti Penyakit Mulut dan
Kuku atau bahkan Antraks menunjukkan bahwa kesehatan hewan tidak bisa
dipisahkan dari kesehatan manusia.
Peran
Karantina dalam Lalu Lintas Hewan Kurban
Dalam proses lalu
lintas hewan kurban, Badan Karantina Indonesia
memiliki peran penting untuk memastikan bahwa pengangkutan hewan dilakukan
secara aman dan sesuai ketentuan. Salah satu fokus utamanya adalah memastikan
kendaraan yang digunakan layak, baik dari segi kondisi fisik maupun fasilitas
pendukung seperti ventilasi, kepadatan muatan, dan keamanan lantai agar tidak
membahayakan hewan selama perjalanan.
Selain itu, pengawasan ini juga bertujuan agar
proses transportasi tetap memperhatikan prinsip kesejahteraan hewan. Dengan
memastikan hewan diangkut secara benar dan manusiawi, risiko stres, cedera,
maupun penurunan kualitas daging dapat diminimalkan. Upaya ini menjadi bagian
penting dalam menjaga kualitas hewan kurban sejak dari asal hingga sampai ke
tempat penyembelihan.
Kurban yang Lebih Bermakna
Iduladha bukan hanya tentang berbagi, tetapi
juga tentang kepedulian. Kepedulian itu tidak berhenti pada manusia, tetapi
juga mencakup bagaimana kita memperlakukan hewan yang menjadi bagian dari
ibadah tersebut. Transportasi hewan kurban mungkin tidak terlihat oleh kita.
Namun, justru di Transpotasi itulah kualitas, keamanan, dan nilai dari kurban
mulai ditentukan.
Daftar
Pustaka
Nicolaisen,
S.; Langkabel, N.; Thoene-Reineke, C.; Wiegard, M. Animal Welfare during
Transport and Slaughter of Cattle: A Systematic Review of Studies in the
European Legal Framework. Animals 2023, 13, 1974. https://doi.org/10.3390/
ani13121974

Komentar
Posting Komentar