Langsung ke konten utama

Peran mahasiswa kedokteran hewan dalam penyadaran masyarakat tentang penyakit hewan


Keasadaran tentang pentingnya kesehatan hewan tentu merupakan hal cukup diperlukan, mengingat bahwa beberapa tahun terakhir ini, hampir seluruh penyakit baru yang muncul dan berbahaya (emerging deseas) merupakan penyakit yang berasal dari hewan dan bersifat zoonosis (penyakit menular dari hewan).
Kenyataan yang ada dimasyarakat bahwa tingkat kesadaran tentang pentingnya penyakit hewan ini masih dirasakan sangat rendah. Hal ini tentu menjadi hal yang cukup memprihatikan dan membahayakan tentunya. Mengingat adanya bahaya penyakit hewan ini yang dapat berdampak luas bagi kehidupan masyarakat bukan hanya pada lini kesehatan saja tapi bisa berdampak pada kehiupan social, ekonomi ataupun sisi kehidupan lainya. 

Peran mahasiswa kedokteran hewan dalam penyadaran masayrakat tentang pentingnya kesehatan hewan sangatlah diperlukan mengingat mahasiswa merupakan salah satu agent perubhan yang dapat menyentuh dan memiliki pengaruh dimasyarakat. Dalam tataran kehidupan mahasiswa kedokteran hewan peningkatan kesejahteraan manusia melalui hewan (manusia mriga satwa sewaka) tentu merupakan hal menjadi titik acuan dalam melakukan  penyadaran tentang pentingnya kesehatan hewan ini. Untuk mencapai hal tersebut maka Mahasiswa kedokteran hewan harusnya menjadi pioneer yang langsung terjun kemasyarakat,  menjelaskan dan memberikan informasi tentang pentingnya kesehatan hewan ini, semoga apa yang kita cita-citakan bersama ini kedepanya dapat terwujud. Viva Veteriner.  (Z)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mendeteksi Bahaya Tersembunyi: Salmonella spp. pada Telur dan Daging Ayam Lintas Pulau

Salmonelosis merupakan salah satu penyakit zoonotik berbasis makanan ( food-borne disease ) yang paling penting di seluruh dunia. Agen penyebab utamanya, Salmonella spp. , dapat menginfeksi manusia melalui konsumsi produk hewan yang terkontaminasi, terutama telur dan daging ayam. Produk unggas ini dikenal sebagai reservoir utama Salmonella spp. , sehingga menjadi titik kritis dalam upaya pengendalian dan pencegahan penyakit. Penularan Salmonella spp. terjadi sepanjang rantai makanan, mulai dari proses produksi di peternakan, penanganan pasca panen, hingga distribusi, termasuk saat produk dilalulintaskan antar pulau. Ketidakhigienisan selama proses ini meningkatkan risiko kontaminasi, memperbesar peluang penularan kepada konsumen. Dalam sebuah penelitian, dilakukan deteksi Salmonella spp. pada telur ayam konsumsi yang berasal dari empat pengirim berbeda antar pulau. Sebanyak 270 sampel diambil menggunakan metode acak berlapis dan diperiksa dengan metode konvensional. Has...

Telur Tetas: Menjaga Kehidupan dari Dalam Cangkang

Di balik kulit cangkang yang keras, tersimpan rahasia kehidupan yang menakjubkan. Telur tetas bukan sekadar bahan pangan; ia adalah awal dari perjalanan seekor unggas baru. Bagi peternak, telur tetas adalah modal berharga untuk memastikan keberlanjutan produksi. Sementara bagi peneliti dan pecinta satwa, telur tetas merupakan contoh sempurna bagaimana keteraturan alam dapat berpadu dengan sentuhan teknologi. Telur tetas adalah telur yang telah dibuahi oleh pejantan dan memiliki potensi untuk menetas menjadi anak unggas. Di dalamnya terdapat embrio yang, jika mendapatkan suhu, kelembapan, dan perlakuan yang tepat, akan berkembang hingga memecahkan cangkang. Proses ini dapat terjadi secara alami melalui pengeraman induk, atau secara buatan dengan menggunakan mesin tetas atau inkubator. Namun, tidak semua telur dapat dijadikan telur tetas. Hanya telur yang memenuhi kriteria tertentu yang memiliki peluang menetas tinggi. Telur tetas yang baik berasal dari induk yang sehat dan bebas penyaki...

Pendekatan Feline-Friendly dalam Menangani Kucing di Klinik Hewan

Kucing (Felis catus) merupakan salah satu hewan peliharaan paling populer di dunia, namun tingkat kunjungannya ke klinik hewan masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan anjing. Data menunjukkan bahwa 72% kucing hanya berkunjung ke dokter hewan kurang dari satu kali dalam setahun, sementara untuk anjing hanya 42%. Beberapa alasan utama adalah sulitnya membawa kucing ke klinik, reaksi stres kucing saat berada di praktik veteriner, dan cara penanganan kucing yang kadang kurang tepat. Sayangnya, informasi tentang bagaimana membuat kunjungan ke dokter hewan menjadi lebih nyaman bagi kucing, pemilik, maupun tim veteriner masih terbatas. Sejarah hubungan manusia dengan kucing dimulai sekitar 10.000 tahun lalu. Awalnya, relasi ini bersifat mutualisme, di mana kucing membantu manusia mengendalikan populasi tikus pada persediaan pangan, sementara manusia menyediakan sumber makanan yang stabil. Tidak seperti anjing yang mengalami banyak perubahan genetik selama domestikasi, kucing tetap mempe...